KEUMALA SETIA

Apa rasanya ketika melihat pasangan hidup kita meregang nyawa. Tangannya kita genggam erat agar dia kuat menghadap sang Pencipta. Apa rasanya meninggalkan pasangan tetap di dunia sementara kita masuk ke alam baru yang tak bisa diraba. Bersama hingga akhir masa hanya bisa dirasa dengan setia. 

Entah berapa banyak kisah yang kusaksikan disini. Berganti hari berganti pula cerita yang datang. Namaku Keumala, panggil saja Mala. Sudah beberapa bulan aku menjadi dokter muda di Rumah Sakit ini. Setiap hari aku menjumpai banyak pasien dengan banyak persoalan. Mulai hal yang kecil hingga hal besar. Mulai dari menghadapi proses kelahiran hingga kematian. Cerita itu datang silih berganti.

Continue reading

Advertisements

KEMATIAN SETIA

Image

Jeruji yang mulai berkarat

Tidak ada yang abadi. Bahkan kesetiaan pun juga hanya sebatas “jika”. Jika ingat, jika ada waktu, jika sempat. Selebihnya hanya semu. Hanya sendiri. Sendiri bertahan dan sendiri menangis. Hingga sendiri berjuang dan sendiri merenung. Inikah setia…

Namaku Erlina. Hari ini tepat empat bulan aku disini. Berkumpul dengan orang orang yang sebelumnya tidak pernah kukenal. Tapi sekarang jarakku dengan mereka menjadi dekat. Dekat dalam arti fisik maupun dekat dengan makna yang lebih dalam.

Continue reading

ABANG, KAPAN PULANG..

ImageSudah dua tahun dia pergi.  Tidak ada pesan dan tidak pula ada tanda tanda dia akan kembali. Orang tuaku bilang jika itu artinya aku sudah diceraikan. Tapi aku tidak perduli. Buku nikah kami masih sering kudekap ketika hendak beranjak tidur. Saat keesokan paginya posisinya masih sama. Erat dalam pelukanku.

Cintaku kepada suamiku memang sangat besar. Aku dinikahinya ketika aku baru saja lulus SMA. Waktu itu aku minta kepada Ayah agar aku dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Ayah meminta maaf karena hanya mampu menyekolahkan ku hingga tingkat atas.

Continue reading

CARA JO MEMAHAMI CINTA

Gambar : Republika

Gambar : Republika

Suara riuh rendah masih terdengar di sudut salah sebuah cafe. Johan dan beberapa rekannya masih sibuk berbincang mengenai bisnis yang hendak mereka rintis. Laptop berjejer di atas meja. Tumpukan kertas bahkan tersusun di atas kursi yang sengaja mereka ambil dari meja lainnya. Entah berapa gelas minuman mereka habiskan. Mulai kopi hingga juice. Kulit kacang pun berserakan. Rencananya dalam waktu dekat mereka akan melauching bisnis properti yang sedang naik daun.

Continue reading

MANOHARA DARI SIBREH

Langit di Sibreh pada hari minggu ini cerah. Tidak seperti kemarin, awan hitam menggulung gulung tapi hujan tak juga kunjung turun.

Nek Non duduk di tangga, dirumahnya yang sudah ia tinggali lebih dari 50 tahun. Rumah ini pernah terbakar pada tahun  1982 menghanguskan apa yang ada,  termasuk cintanya. Dalam kebakaran itu Yah Nek Leman, suami Nek Non tewas terbakar. Menurut Nek Non suaminya tewas  karena terpanggang di dalam rumah, karena menyelamatkan Ati keponakannya yang sudah menjadi yatim piatu sejak lahir. Ibunya meninggal waktu melahirkan Ati, sedangkan ayahnya meninggal disambar petir ketika berkebun.

Continue reading