ABANG, KAPAN PULANG..

ImageSudah dua tahun dia pergi.  Tidak ada pesan dan tidak pula ada tanda tanda dia akan kembali. Orang tuaku bilang jika itu artinya aku sudah diceraikan. Tapi aku tidak perduli. Buku nikah kami masih sering kudekap ketika hendak beranjak tidur. Saat keesokan paginya posisinya masih sama. Erat dalam pelukanku.

Cintaku kepada suamiku memang sangat besar. Aku dinikahinya ketika aku baru saja lulus SMA. Waktu itu aku minta kepada Ayah agar aku dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Ayah meminta maaf karena hanya mampu menyekolahkan ku hingga tingkat atas.

Saat itulah suamiku datang. Aku memanggilnya Abang. Tapi nama lengkapnya Adi Firdaus. Dia bekerja sebagai pemborong. Kala itu dia ibarat malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjawab semua pintaku. Salah satu doaku adalah diberi kemudahan untuk melanjutkan kuliah.

Tuhan seakan menunjukkan kekuasaan dan kekuatan Nya. Abang datang tidak hanya menawariku biaya kuliah tapi lebih dari itu. Dia melamarku meski perkenalan kami terbilang singkat. Ayahku sepakat sedangkan Emak tidak setuju. Tapi karena Ayah punya kuasa besar di rumah ini, maka Emak pun turut memberi restu. Meski pada malam pernikahan, Emak menangis sambil memelukku. Alasannya kala itu dia akan kehilangan anak perempuan satu satunya.

Setelah menikah kami pindah ke Banda. Jarak kampung kami dengan Banda lumayan jauh. Amat jauh malah untuk orang seperti ku yang tidak pernah pergi kemana mana. Sesampai di Banda aku tidak langsung menuju rumah Abang. Tapi diajak berkeliling melihat kota yang pernah hancur disapu bencana. Aku juga diajak makan mie. Katanya mie ini paling enak yang ada di kota ini.

Menjelang magrib aku pun diantar menuju rumah. Awalnya Abang berjanji jika sampai di rumah nanti akan ada penyambutan sederhana. Tapi sampai disana rumah tampak kosong. Hanya menyala lampu teras dan lampu dari sebuah kamar.

Aku turun dari mobil sambil membawa barang barang yang disiapkan Emakku. Ada yang aneh dengan Abang saat itu. Dia mengetuk pintu. Artinya ada orang di Rumah. Tapi siapa?

Pintu dibuka. Aku terperanjat karena yang membuka pintu adalah seorang perempuan sambil menggendong anak yang sedang terlelap tidur.

“Dapat orang kerjanya bang?” tanya perempuan itu.

Abang melirikku. Seakan memberi isyarat kepada perempuan itu jika akulah yang dimaksud. Aku terkejut. Aku belum yakin apa itu maksud lirikan Abang tadi.

“Ya ini orang yang Abang janjiin sama Bunda” kata Abang yang membuat bibir ku kelu. Aku menatap Abang, sedangkan dia malah cuek begitu saja.

“Ooo Ayo masuk” ajak perempuan itu ramah.

Perempuan itu  menuntunku menuju kamar yang terletak di belakang. Posisinya persis dekat dapur dan kamar mandi.  Di kamar yang berukuran 3×5 itu hanya tersedia satu matras dan satu lemari.

“Kamu tidur disini ya, maaf kalo kamarnya kecil. Soalnya ini bekas gudang tapi udah kakak bersihin kok” kata perempuan itu sambil menyodorkan tangan. Memperkenalkan namanya.

“ Nama kakak Ayudia, tapi kamu cukup panggil Kak Ayu aj ya. Nama kamu siapa?”.

Aku masih terdiam.  Bibirku masih kelu. Banyak pertanyaan melintas ke pikiranku.  Siapa Ayudia. Kenapa aku harus tidur diruangan yang bekas gudang seperti ini. Dan bagaimana statusku sebagai istri nya Abang.

“Rima kak..” jawabku singkat.

“Oke Rima. Kamu yang betahan ya disini. Soalnya udah beberapa kali banyak orang kerja yang keluar masuk. Oya kalau mau tidur, tidur aj duluan. Karena besok abis Shubuh  kamu kan harus kerja”.

Aku mengangguk pelan dan masih mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan Ayu dan memahami semua kejadian.

Ketika hendak beranjak tidur, sebuah panggilan masuk. Emak. Hah Emak menelepon. Ada apa gerangan. Apa beliau tau jika anaknya tersiksa batin disini. Apa ini kekuatan yang dimiliki seorang Emak yang perasaan nya bisa menembus batas langit.

“Assalamu’alaikum Emak..”

“Wa’alakumsalam. Kamu baik baik aj kan neuk?”

Pertanyaan Emak langsung to the point. Aku terdiam. Aku tidak tau harus menjawab apa. Kabar baikkah, tapi kabar baik macam apa jika pengantin baru harus tidur di kamar bekas gudang. Atau kabar buruk, tidak mungkin juga aku menyampaikan kabar ini sama Emak. Hanya akan menambah beban beliau saja.

“Neuk, kamu baik baik saja kan?” tanya Emak kembali memastikan.

Aku tersadar jika aku terlalu lama diam. Sehingga Emak kembali mencecarku dengan pertanyaan yang sama.

“Alhamdulillah Mak, Rima baik baik saja disini” jawabku dengan suara mulai parau. Kalau boleh jujur aku ingin berada di dekat Emak sekarang. Menangis dalam pelukannya. Dipeluk erat hingga menjelang pagi.

“Emak tau kamu menangis neuk. Pulanglah ke kampung. Emak dan Ayah akan menjagamu disini. Kami tidak akan menyakitimu”

Tangisku pecah. Aku berusaha merendam suara tangisku. Aku tidak mau Emak, Abang dan kak Ayu mendengar isakku. Aku terdiam cukup lama. Tidak ada ya kami berdua bicarakan. Masing masing kami terpaku. Aku tau diujung telepon sana, Emak juga menangis.

“Mak, Rima mau istirahat dulu. Baru aj sampai dirumah. Besok kita ngobrol lagi ya Mak. Yang pasti Rima disini baik baik aj” tanpa mendengar pesan terakhir, pembicaraan aku tutup.

Aku menangis hebat. Ini tangisanku yang paling berat. Mengalahkan tangisku ketika melepas adikku ke liang lahat karena tewas tertembak pada zaman konflik dulu. Dalam tangis aku tertidur. Tertidur di ruang yang sempit ini. Sendirian. Sedangkan Abang memilih tidur dengan perempuan itu.

**

Sudah lima bulan aku tinggal dirumah ini. Entah apa yang membutku bertahan. Cinta? Terlalu bias rasanya. Selama ini Kak Ayu masih tidak tau jika aku sudah dinikahi oleh suaminya. Suaminya adalah suamiku juga.

Abang sebenarnya baik. Dia tetap memberikan ku nafkah lahir batin. Untuk masalah itu Abang hati hati memilih waktu. Kami melakukannya ketika Kak Ayu sedang tidak ada di rumah. Abang juga tidak pernah marah. Jika rumah sedang sepi Abang juga mengajakku makan bersama. Di saat seperti itulah aku biasanya dapat bermanja layaknya seorang istri kepada suaminya.

Namun aku juga bingung bagaimana dia bisa menyimpan rahasia ini begitu rapat. Apa maksudnya dia meminangku dulu. Dan apa pula sebabnya dia membuatku layaknya pembantu bagi Kak Ayu.

Meski lima bulan tinggal disini, aku juga belum temukan jawaban. Tiap kali kutanya tentang masalah itu, Abang selalu menolak. Dia tidak berkomentar meski sedikit.

Pada suatu hari aku mengancamnya, jika dia tidak jujur maka aku akan berterus terang kepada Kak Ayu. Tiba tiba Abang berang. Dia marah besar. Gelas yang ada didekatnya di banting. Suaranya begitu keras.

Aku berteriak ketakutan. Saat itulah Kak Ayu yang baru pulang dari pasar mendapatiku dan Abang dalam jarak yang begitu dekat. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Di depan Abang aku mengaku jika aku adalah istri keduanya.

Mendengar pengakuanku, Kak Ayu kalap. Abang dipukulinya. Aku juga menjadi sasaran kemarahan dia. Tidak menerima aku diperlakukan buruk seperti itu, Abang membela dan melindungiku. Kak Ayu makin berang. Aku dan Abang diusirnya. Ketika keluar dari rumah, aku hanya membawa  pakaian serta uang yang aku tabung selama ini.

Kami pun langsung menuju terminal bus. Abang berjanji akan mengantarku pulang. Bertemu Ayah dan Emak. Tapi aneh, sejak Abang turun dari bus dia tidak naik lagi. Handphone nya tidak aktif. Sementara itu bus akan segera jalan. Aku meminta supir untuk berhenti sejenak. Tapi supir menolak karena ada penumpang yang buru buru.

Bus melaju. Di dalam nya ada aku yang kebingungan. Kuedarkan mataku ke penjuru terminal dari balik kaca bus yang mulai bertambah kencang. Sejak itulah aku tidak pernah melihat Abang hingga hari ini.

**

Kata Ayah dan Emak, aku sudah dicerai. Karena dua tahun Abang tidak pernah datang berkunjung apalagi memberi nafkah. Tapi aku selalu yakin jika suatu saat nanti Abang pasti kembali. Abang kapan pulang….

Banda Aceh 26092013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s