KEMATIAN SETIA

Image

Jeruji yang mulai berkarat

Tidak ada yang abadi. Bahkan kesetiaan pun juga hanya sebatas “jika”. Jika ingat, jika ada waktu, jika sempat. Selebihnya hanya semu. Hanya sendiri. Sendiri bertahan dan sendiri menangis. Hingga sendiri berjuang dan sendiri merenung. Inikah setia…

Namaku Erlina. Hari ini tepat empat bulan aku disini. Berkumpul dengan orang orang yang sebelumnya tidak pernah kukenal. Tapi sekarang jarakku dengan mereka menjadi dekat. Dekat dalam arti fisik maupun dekat dengan makna yang lebih dalam.

Bagaimana mungkin aku tidak dekat dengan mereka. Bayangkan kami tidur dalam ruangan yang sama. Sederhana, kecil dan pengap. Ruang ini hanya berukuran 4×6 tanpa jendela di dalamnya!. Segala “fasilitas” super lengkap.. Mulai dari tempat tidur. No,  mungkin kata itu terlalu mewah. Lebih tepatnya lantai beralasakan dipan tipis, kamar mandi, dapur dan tempat menjemur pakaian. Semuanya berada dalam satu ruangan. Kami tidur bertujuh. Ya bertujuh. Jangan dibayangkan bagaimana cara dan rasanya. Karena hingga kini aku pun tidak tau cara menjelaskannya. Aku dipenjara.

Selama tidur disini, aku sangat terbiasa melihat kecoa bahkan limpan naik ke atas kulit teman temanku. Aku begidik. Untuk menghindari itu, aku kerap menebar garam di dekat areal tempat ku tidur. Namun kata seorang teman jika beberapa kali dia melihat limpan juga pernah main di kaki ku.

Tinggal disini artinya bunuh diri. Mungkin kalimat itu terdengar sedikit ekstrim.  tapi tidak untukku. Sebagai perempuan dengan karir gemilang, harta berlimpah dan dikelilingi orang orang tercinta, tentu saja tempat ini adalah Neraka.

Satu bulan pertama aku hanya menangis. Tidak nafsu makan hingga penyakit mag ku memburuk. Sebab itu pula aku pernah dirawat di Rumah Sakit. Awalnya aku kira Rumah Sakit adalah kesempatanku menikmati indahnya hidup. Tapi itu cuma mimpi. Di luar sana sipir penjara berjaga jaga. Tanganku awalnya juga diborgol, tapi suamiku meminta agar itu dilepas. Dia menjadi penjamin.

Hingga kini aku masih bingung dengan apa yang menimpaku. Dugaan korupsi yang mereka tuduhkan adalah omong kosong. Aku bukan tipe perempuan yang gila harta. Kalau aku gila harta, tentu harta suamiku sudah kugrogoti hingga ke akar akarnya. Tapi sejak menikah dengannya tidak ada satu permintaan pun yang kupinta. Karena aku dapat menghidupi diriku sendiri. Tapi suamiku dia orang yang paling baik. Dia tau apa yang kusukai.

Dia pernah memberiku sebuah sepeda. Tidak terlalu mewah memang karena aku juga mampu membelinya.  Tapi hadiah itu cukup berharga bagiku. Entah tau dari mana jika aku memerlukan sepeda dalam waktu cepat untuk kuhadiahkan bagi tukang cuci dirumahku. Suamiku hebat, instingnya tajam.

Selama terkurung disini, semua masalah mungkin bisa kuhadapi. Untuk soal makan, aku berlangganan dengan pengelola kantin Lapas. Karena makanan penjara sulit untuk kukunyah. Sementara itu untuk masalah tempat tidur, dari laporan sipir aku akan segera dipindahkan ke ruangan yang lain. Ukuran ruangannya sama, tapi hanya dihuni oleh tiga orang saja. Sedikit lebih lapang menurutku.

Tapi ada satu hal yang tidak dapat kulawan. Aku akui untuk urusan yang satu ini aku kalah. Jauh dari keluarga adalah hal yang membuatku seperti orang yang terjatuh dan tersungkur dalam sebuah pertandingan. Aku lelah dan lemah. Tinggal disini membuatku jauh dari keluarga, suami dan anak anak.

Selama empat bulan ini hanya suamiku yang rutin mengunjungiku. Dia datang saban pagi dan petang. Bahkan jika sedang tidak sibuk kami bisa menghabiskan waktu bersama sepanjang hari hingga bel dibunyikan. Suamiku kerap membawa makanan dan minuman kesukaanku. Terkadang dia membawa dalam jumlah yang banyak. Katanya itu untuk dibagikan kepada teman temanku. Dia pria yang baik bahkan nyaris sempurna.

Berbeda dengan suamiku, anak anak bahkan tidak pernah datang sekedar memeluk. Bukan nya mereka tidak mau tapi jarak kami yang terlalu jauh. Mereka sudah kami ungsikan ke tempat yang lebih baik bagi perkembangan mereka. Aku dan suamiku mengirim mereka pulang kampung dan tinggal bersama nenek mereka. Aku meyakini betul jika mereka tetap tinggal satu kota denganku, masa depan mereka akan habis. Anak anakku akan menjadi korban bully teman teman sekolahnya.

Dari keempat anakku, Qaira adalah yang paling kurindukan. Energi pikiranku habis untuk memikirkannya. Anak terakhirku itu baru berusia lima tahun. Seharusnya dalam usia perkembangan nya dia bersamaku. Tapi aku dimana dia dimana. Lewat suami aku tau jika dia mulai berubah. Tidak mau makan, pemurung dan suka melamun.  Kata psikiater Qaira terkena Gejala luka batin pada anak. Kalau diabaikan Qaira bisa tumbuh menjadi anak yang memiliki masalah sosial. Ujung ujungnya dia akan tumbuh menjadi anak yang tidak normal.

Dalam Lapas ini aku coba memahami banyak hal. Termasuk memahami makna dari sebuah kata. Kata yang kerap kudengar dan kusebut sebut sedari dulu. Setia. Ya kata itu memang cukup sederhana bagi banyak orang diluar sana. Tapi bagiku kata ini punya arti besar.

Disini aku coba memahami dengan kuat apa dan siapa itu setia. Barang macam apa dia. Bisakah kusentuh atau hanya bisa kurasakan saja. Setia. Kata yang semakin hari semakin sulit kucerna. Terjemahan setia yang kupahami dulu adalah sikap mendukung, mencintai dan saling melindungi. Tapi sejak aku disini setia macam itu sudah sulit kutemukan.

ImageSejak masuk dalam perangkap ini, aku menulis setiap nama yang mengunjungiku. Awalnya aku kira ini untuk melihat apakah mereka setia atau tidak mereka terhadapku. Dinding dalam kamarku penuh dengan sejumlah nama. Semakin sering mereka datang semakin banyak tarikan garis lurus yang kuberikan. Sampai sampai seorang teman menertawaiku.  Katanya pada satu titik aku akan berhenti melakukan itu. Aku hanya tersenyum dan mengabaikannya.

Tapi makin kemari aku sepertinya sepakat dengan temanku itu. Semakin kemari semakin aku tau kalau aku setia itu aneh. Karena dia datang lalu menghilang. Layaknya kabut yang menguap ketika matahari menyapa pagi.

Empat bulan aku disini,  hanya beberapa orang saja yang tetap datang menjengukku. Tidak seramai ketika diawal awal. Terkadang mereka datang membawa kegembiraan. Namun terkadang mereka datang dengan tumpukan cerita masalah kantor. Tapi it’s okey entah kenapa aku tetap saja tertarik dengan dunia kerja. Padahal itu pula yang menyeretku dalam kondisi seperti ini.

Empat bulan sudah aku disini. Tinggal dan makan serta menjalani hari hari yang mungkin kedepannya semakin suram. Kata nyaman mulai kuhapus dari kamus hidupku. Tapi disini aku malah memahami betul apa arti kesetiaan. Di luar sana setia bisa muncul begitu saja, tapi kemudian menghilang dan pergi. Dia datang dan pergi sama cepatnya. Tapi dari sini aku dapat melihat dan memahami bahwa setia itu adalah cinta, kasih sayang, dukungan dan pengertian.

**

00.33 wib 26092013..

4 thoughts on “KEMATIAN SETIA

    • ini beranjak dari kisah nyata. seorang teman dia juga seorang Ibu yang harus mendekam dalam penjara karena masalah korupsi. menurut kawan2 dia hanya sial.. entah maksud nya apa.

      selama dilapas beliau menjadi paham bahwa setia itu hanya teruji bukan dalam gelak tawa melainkan airmata…

      makasih sudah berkunjung ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s