CARA JO MEMAHAMI CINTA

Gambar : Republika

Gambar : Republika

Suara riuh rendah masih terdengar di sudut salah sebuah cafe. Johan dan beberapa rekannya masih sibuk berbincang mengenai bisnis yang hendak mereka rintis. Laptop berjejer di atas meja. Tumpukan kertas bahkan tersusun di atas kursi yang sengaja mereka ambil dari meja lainnya. Entah berapa gelas minuman mereka habiskan. Mulai kopi hingga juice. Kulit kacang pun berserakan. Rencananya dalam waktu dekat mereka akan melauching bisnis properti yang sedang naik daun.

Ini adalah rapat mereka yang kesekian kalinya. Biasanya mereka berkumpul di rumah Jo. Karena disana nyaman dan banyak makanan gratis. Tapi malam ini Jo meminta agar rapat digelar di Cafe. Seluruh biaya makan minum akan ditanggung olehnya.

“Aku akan menceraikan istriku” kata Johan tanpa basa basi.

Suasana hening. Teman teman Jo yang sedari tadi begitu serius berdiskusi kini terdiam. Mereka saling bertetapan.

“Ya aku mau menceraikan Istriku”  Jo mengulanginya seakan tau reaksi teman temannya.

“Jo, kamu ini apa apaan sih. Kita semua disini sedang serius” kata Adli rekan bisnis yang juga masih punya hubungan saudara dengan Johan.

Jo terdiam. Tatapannya kosong. Sejurus matanya menatap kedepan tanpa arti. Suasana juga masih sama, hening. Karena merasa tidak nyaman, Adli mengajak rekan rekannya pulang.

Mereka pun beranjak pergi. Menuju ke areal parkir yang berada di pojok Cafe. Adli mengikuti Johan dari belakang.

“Kamu pulang kerumah kan Jo?” tanya Adli .

“Aku akan menginap di Hotel malam ini. Aku tidak ingin pulang” kata Jo sambil membuka pintu mobilnya. “Aku belum mau bertemu Istri dan anak anakku”.

Jo memang telah menikah enam tahun yang lalu. Dengan seorang gadis yang dijodohkan oleh ibunya. Jo pernah menolak tawaran itu. Namun karena ibunya sedang sakit keras perjodohan itupun diterimanya.

Istri Joe adalah anak dari teman sekolah ibunya dulu. Dia hanya tamatan SMA. Namanya Rukmi. Dari pernikahan itu Jo memiliki dua anak . Rianti anak pertama dan Bagas anak kedua. Mereka tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas.

Tidak ada yang salah dari pernikahan Jo dan Rukmi. Selama enam tahun mereka berdua menjalan tugas dan fungsinya dengan sempurna. Jo menjadi seorang suami dan Ayah yang baik. Dia sosok pria pekerja keras dan pelindung bagi keluarganya.

Sedangkan Rukmi meski hanya lulusan SMA tapi dia menjadi mitra yang serasi. Dia mampu mengimbangi diskusi Jo. Jangan ditanya kemampuan Rukmi di dapur. Dia mampu menghidangkan makanan ala restoran mewah. Sesi makan bersama menjadi rutinitas yang menyenangkan di keluarga kecil itu. Rukmi juga istri yang setia, penyayang dan pemaaf. Bahkan sifat itu pernah ditunjukkannya ketika menghadapi peristiwa yang sangat menyakitkan.

Malam itu Rukmi iseng iseng membuka handphone milik suaminya yang baru pulang dinas luar kota. Tidak ada niat apapun yang terbersit dalam pikirannya. Awalnya dia membuka kotak pesan masuk. Tidak ada yang aneh dari daftar pesan itu. Tapi dia curiga dengan sebuah pesan yang dikirim oleh “rembulan merah”. Dia coba telusuri. Ternyata nama itu beberapa kali ditelepon dan menelepon suaminya.

Sebagai perempuan, feelingnya bermain. Tapi dia tidak ingin curiga dengan suaminya. Lalu Rukmi membuka galeri foto. Saat itulah petir seakan menyambar. Dia melihat suaminya sedang merangkul seorang perempuan berpakaian merah. Wajah mereka menempel mesra.

Rukmi menangis. Saat itu Jo yang masuk kedalam kamar terkejut. Dia mengambil handphone dari tangan istrinya. Jo  yang merasa tertangkap basah langsung minta maaf. Rukmi memilih diam dan keluar kamar. Malam itu rukmi tidur bersama anak anak. Jo tidur sendirian dengan pikiran kalut.

Keesokan paginya Jo kembali minta maaf. Sambil menunggu anak anak keluar dari kamar untuk sarapan bersama, Jo kembali mengiba. Rukmi menatap mata Jo dalam dalam.

“Aku sudah memaafkanmu Suamiku. Tapi aku minta selesaikan masalahmu terlebih dahulu”

Jo tersentak kaget. Dia tidak menyangka akan mendapat reaksi seperti ini. Jo memeluk istrinya. Anak anak yang tiba tiba keluar dari kamar menyoraki Ayahnya.

“Nahhh Ayah nakal… hehhe”. Suasana kembali ceria. Seakan tidak pernah ada masalah.

Kesetiaan Rukmi sebagai istri memang tidak perlu diragukan lagi. Dulu ketika Jo pernah merintis bisnis dia harus meminjam sejumlah uang dari rekannya untuk dijadikan modal. Bisnis itu gagal. Sejak saat itu rekan Jo makin sering datang kerumah untuk menagih hutang. Bukan Jo yang menghadapinya melainkan Rukmi. Bahkan Rukmi dengan ikhlas menjual emas yang dimilikinya untuk menutupi hutang Jo. Belakangan Rukmi tau jika uang yang dipinjam suaminya bukan untuk bisnis melainkan main perempuan di Singapura. Rukmi masih memaafkan Jo.

Sebagai perempuan Rukmi pernah kecewa. Dia pernah pergi dari rumah sambil membawa anak anak pulang kampung. Disana dia menangis tersedu sedu menceritakan nasib yang dialaminya. Ibu Rukmi berpesan agar dia tetap menjadi istri yang baik. “ Ingat anak anak” pesan ibunya.

**

Pagi itu hujan gerimis masih turun. Suasana sendu. Jo dan Rukmi sudah siap duduk di kursi pengadilan agama. Jo tetap berkeras jika perceraian ini harus tetap dilanjutkan. Sedangkan Rukmi mengaku pasrah. Badannya semakin kurus. Bahkan pernah masuk rumah sakit karena menolak makan. Rukmi begitu terpukul dengan keputusan suaminya yang ingin tetap menceraikannya. Tidak pernah ada jawaban jelas alasan dia diceraikan.

Dalam pengadilan terakhir ini, hakim akan memutuskan perkara. Namun sebelum palu diangkat, Hakim kembali bertanya apakah Johan serius menceraikan istrinya. Johan mengangguk tegas. Lalu hakim bertanya atas alasan apa. Johan pun bercerita. Jika pernikahannya selama hampir tujuh tahun ini sudah sangat hambar apalagi sejak delapan bulan terakhir. Tidak ada komunikasi yang terjalin. Mereka saling diam. Tidak ada lagi hubungan percintaan. selama delapan bulan itu anak anak juga mulai tidak terurus.

Jo mengaku semua adalah salahnya. Sebagai suami dia tidak lagi memberikan nafkah lahir batin untuk istrinya. Sementara sebagai Ayah dia jarang bermain dengan anak anaknya. Jo lebih memilih bermain dengan rekan bisnisnya, main perempuan dan sekali kali berjudi.

Rukmi yang mendengar keterangan suaminya menangis. Dia menyeka airmata yang tak terbendung. Emosimya berkecamuk.

“Saya tidak pantas bagi mereka pak hakim”. Tegas jo yang membuat Rukmi terperanjat. “ Saya akan tetap menceraikan istri saya”.

“Apakah kamu masih mencintai Istrimu?” tanya Hakim

“Hingga detik ini, Rukmi adalah perempuan sempurna yang pernah hadir dalam hidup saya. Dia perempuan terbaik bagi saya dan anak anak. Rukmi ialah singgahsana yang pernah ada dalam Kerajaan hati saya Pak Hakim.” Suara Jo serak menahan haru. Dia seakan membuka semua perasaan yang lama dipendam. tak kuasa menahan haru, Jo berhenti sesaat.

Rukmi terpaku menatap Jo. Air matanya dibiarkan menderas. Suasana sempat hening. HIngga akhirnya Jo melanjutkan penjelasannya.

“Pak hakim.., hingga detik ini saya masih mencintainya. Sangat mencintainya.  Tapi karena itu pula saya harus menceraikan nya”.

**

Banda Aceh, 23092013

3 thoughts on “CARA JO MEMAHAMI CINTA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s