KEUMALA SETIA

Apa rasanya ketika melihat pasangan hidup kita meregang nyawa. Tangannya kita genggam erat agar dia kuat menghadap sang Pencipta. Apa rasanya meninggalkan pasangan tetap di dunia sementara kita masuk ke alam baru yang tak bisa diraba. Bersama hingga akhir masa hanya bisa dirasa dengan setia. 

Entah berapa banyak kisah yang kusaksikan disini. Berganti hari berganti pula cerita yang datang. Namaku Keumala, panggil saja Mala. Sudah beberapa bulan aku menjadi dokter muda di Rumah Sakit ini. Setiap hari aku menjumpai banyak pasien dengan banyak persoalan. Mulai hal yang kecil hingga hal besar. Mulai dari menghadapi proses kelahiran hingga kematian. Cerita itu datang silih berganti.

Disini di tengah rutinitasku menghadapi para pasien, aku mendapatkan banyak kisah kesetiaan dan pengorbanan. Di Rumah Sakit ini aku seperti diajar tentang materi kesetiaan yang tidak kudapatkan di bangku kuliah. Hanya pada realita hidup yang sebenarnya aku dapat belajar mengenal arti kata itu.

Aku ingin bercerita tentang sebuah kisah. Ini tentang kesetiaan seorang suami yang menemani istrinya hingga menjemput maut. Sang istri menderita kangker rahim yang sudah menjalar ke organ lain sehingga terkena insulinoma. Salah satu penyakit dari kangker pangkreas sehingga insulin di dalam tubuh tidak dapat berfungsi secara baik.

Selama di Rumah Sakit, semua kebutuhan sang istri disiapkan oleh suaminya. Mulai dari urusan makan, mandi hingga membersihkan kotoran. Bahkan termasuk mengecek kadar gula darah yang harus dilakukan setiap jam. Tentang hal ini aku pernah bertanya padanya,  jawabnnya singkat. “ dia tidak mau merepotkan orang lain”.

Setelah beberapa hari dirawat inap akhirnya sang istri menghembuskan nafas terakhir. Saat sakratul maut menjemput, tangan suaminya masih saja menggengam erat. Memang selama berada di rumah sakit sang suami tidak pernah melepas tangan sang istri. Tangan itu dilepas ketika hendak makan, shalat dan membeli obat. Selebihnya tangan itu tetap digenggamnya.

Ketika sang istri wafat tidak ada air mata yang keluar. Awalnya aku kira si suami tegar. Ternyata pikiranku tidak sepenuhnya benar. Sejurus kemudian Sang suami mengambil sebuah tempat khusus. Seakan menghindar dari keramaian.  Di sana dia menangis. Dia menangis cukup lama. Hingga Ibunya datang menjemput.

tangan suami sedang memegang tangan istri yang telah meninggal. foto : Ismi Laila

tangan suami sedang memegang tangan istri yang telah meninggal. foto : Ismi Laila

Kesetiaan itu dahsyat. Ia bisa datang dan hinggap kepada siapapun pemuja cinta sejati. Aku juga punya Kisah lain yang kudapati dari rutinitasku di Rumah Sakit ini. Kisah ini adalah cerita cinta yang disuguhkan oleh pasangan suami istri yang telah berusia lanjut. Kedua nya tengah dirawat inap di ruangan yang berbeda tapi jaraknya tidak terlalu jauh. Usia mereka berkisar 60 hingga 70 tahun. Mereka sama sama sedang menjalani proses penyembuhan atas penyakit yang menahun.

Suatu pagi kondisi nenek menurun. Kabar itu disampaikan kepada suaminya. Kakek meminta agar dia dibawa ke ruangan tempat istrinya dirawat. Saat pertama kali berjumpa, kakek mencium tangan istrinya yang dihiasi jarum infus. Tangan nenek diusapnya lembut. Tidak ada kata kata, suasana hening. Kakek berdoa.

Aku memberi ruang untuknya. Supaya dia dapat melepas beban yang ada. Lama sekali mereka duduk berdua. Entah apa yang mereka obrolkan. Sesekali kakek tertawa kecil tetapi sesekali kakek menyapu air matanya.

Aku yang menatap dari jarak yang tidak terlalu jauh gagal menangkap isi pembicaraan mereka. Bukan bermaksud menguping, karena aku tau itu perbuatan tidak sopan. Aku hanya ingin menyimak kisah hidup mereka. Menikmati kebersamaan hingga kondisi begini rupa.

Menjelang siang kondisi nenek terus memburuk. Kami berupaya memberi bantuan. Namun takdir berkata lain. Ketika azan zuhur berkumandang nenek meninggal disamping kakek. Tidak ada air mata yang menganak sungai. Kakek hanya memejamkan mata beberapa saat. Kemudian mencium kening sang istrinya yang tak lagi bernyawa.

Aku dengar diluar sana menjadi setia itu sulit. Tapi disini setia itu mudah dan tampak begitu indah.

**

One thought on “KEUMALA SETIA

  1. Kesetiaan terkadang diuji sampai di titik terendah manusia.. Slebihnya biarkan Tuhan yang mmberikan kebahagiaan lain utk kebhagiaan yg telah hilang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s