MANOHARA DARI SIBREH

Langit di Sibreh pada hari minggu ini cerah. Tidak seperti kemarin, awan hitam menggulung gulung tapi hujan tak juga kunjung turun.

Nek Non duduk di tangga, dirumahnya yang sudah ia tinggali lebih dari 50 tahun. Rumah ini pernah terbakar pada tahun  1982 menghanguskan apa yang ada,  termasuk cintanya. Dalam kebakaran itu Yah Nek Leman, suami Nek Non tewas terbakar. Menurut Nek Non suaminya tewas  karena terpanggang di dalam rumah, karena menyelamatkan Ati keponakannya yang sudah menjadi yatim piatu sejak lahir. Ibunya meninggal waktu melahirkan Ati, sedangkan ayahnya meninggal disambar petir ketika berkebun.

“kalau pun saya meninggal nanti, kamu rawat Ati ya. Insya Allah dia akan menjadi anak  baik”

Itu pesan terakhir disampaikan yah Nek Leman, malam sebelum kebakaran menghanguskan rumah kayu itu.

“mak!” hardikan keras datang dari belakang. “ kok dari tadi Ati lihat mak Cuma duduk-duduk  saja. Apa ngak ada yang bisa dilakukan? Masak kek, nyuci kek”

Nek Non menatap Ati dengan mata tuanya. Dia sudah terbiasa dengan perlakuan seperti itu. Hampir tiga tahun Ati memperlakukan kasar Nek Non. Semua berawal dari kegagalan pernikahan Ati. Calon suaminya ketahuan menghamili pembantunya sendiri. Mulai sejak itu Ati sering marah marah. Kalau emosinya memuncak bukan tidak mungkin piring, gelas atau apapun itu  di bantingnya hingga hancur berantakan.

Pernah ketika Nek Non sedang menerima kunjungan saudara jauhnya, dari arah dapur Ati berteriak teriak. Ketika dilihat dia sedang memaki pak Burhan tetangga belakang rumah. Ati bilang kalau tetangganya berupaya mencuri nangka yang menunggu matang. Agak aneh memang karena tetangga itu punya kebun nangka yang luas.

Belum lagi kebiasaan Ati yang doyan menyimpan barang barang milik orang lain. Meskipun kebiasan itu sudah menjadi rahasia umum.

“ mak kan sudah tua ti, masak mak harus masak sama nyuci baju”

“ ya sudah, kalau mak ngak mau masak ya ngak usah makan atau kalau mak ngak mau nyuci, ya ngak usah pake baju sekalian!” bentak Ati dengan suara yang semakin meninggi sambil menarik narik kerah baju Nek Non.

Nek Non terjerambat, jatuh lunglai. Tubuh tua nya yang semakin ringkih tidak sanggup menahan tarikan Ati.

***

Sudah seminggu Nek Non tidak mampu bangkit. Dia terpaksa makan dan minum di atas ranjang. Tidak jarang untuk buang air pun harus disana. Kalau ada yang  bertanya kenapa Nek Non jatuh sakit, Ati dengan enteng menjawab kalau Nek Non terpeleset di sumur.

Selama Nek Non sakit, Incahlah yang sering menemani. incah sejak dulu memang setia meski tidak memiliki hubungan keluarga. Sementara Ati tidak pernah peduli.

Dulu ketika Yah Nek Leman masih hidup, keluarga incah sering dibantu. Mulai dari mengirim beras jika panen gagal atau hanya menunjukkan sedikit perhatian ketika suami incah meninggal karena keserum saat memasang lampu di teras mesjid.

“Ummi Ainun, kita mandi dulu yuk” ajak incah. Dia memang memanggil Nek Non dengan sebutan  ummi ainun. Barangkali karena namanya Ainun Rahima.

“jangan cah, saya lagi ngak mau mandi” pinta Nek Non

“ummi, ummi sudah 4 hari ngak mandi, nanti sore kan datang tamu.” Incah mencoba menghibur . Tapi tetap saja Nek Non menanggapinya dingin.

“ Ya Allah, ummi ini kenapa lengannya, leher nya juga. Lha ini punggungnya kenapa kok bisa seperti ini” incah kaget melihat bekas sayatan disekujur tubuh Nek Non. Ada luka lama tapi ada juga yang masih memerah seperti baru disayat.

“ Udah Cah, jangan ribut- ribut nanti Ati dengar. Dia bisa marah. Sudah batalkan saja mandinya”

“ iya tapi ummi kenapa?” incah terus memaksa

Air mata Nek Non tumpah. Tangis Incah pun pecah ketika tau Ati lah yang menyanyat tubuh ringkih Nek Non.

“ Ati marah besar, karena ummi dianggap menceritakan tentang nasib calon suaminya yang dipenjara ke orang orang di kampung. Padahal demi Allah ummi ngak pernah cerita ke siapapun” Nek Non coba menjelaskan kronologis kejadian.

“ ini ngak mungkin dibiarin ummi, Incah akan lapor ke pak geuchik. Biar masalah ini di tangani gampong”

Belum lagi Incah berdiri sempurna.

“ kamu mau kemana cah? Jangan sok jadi pahlawan kesiangan kamu. Dia itu mak saya dan kamu cuma gembel yang selama ini kami bantu. Berhenti kamu disana atau kamu akan bernasib sama dengan mak ku atau lebih!” Ati mengancam sambil memegang pisau dapur.

“ ti, aku ngak takut sama ancaman kamu. Kalau kamu ngak minggir aku akan berteriak sekerasnya.” Incah balas mengancam.

***

“Cut”

satu persatu crew film menyalami Nek Non, mulai sutradara sampai tukang make up. Mereka memberi selamat kepada Nek Non karena sebagai pendatang baru di dunia perfilman Indonesia akting Nek Non dinilai sangat alami.

“luar biasa nek, aktingnya bagus banget” haning bramanti sutradara kenamaan memuji Nek Non. Nek Non hanya bisa tersenyum malu

Memang kini Nek Non sudah tampak lebih segar dari biasanya, apalagi sejak membintangi film terbarunya Nek Non merasa harus berubah. Harus terbiasa tersenyum meskipun lagi capek syuting atau tampak gembira meskipun masih dirundung duka karena nasib yang menimpa Ati.

Sejak kasus perlakuan buruk yang dialami Nek Non diliput media lokal bahkan  nasional, nasib Nek Non berubah total. Nek Non segera “diamankan” ke Jakarta oleh sebuah LSM dengan alasan pemulihan kesehatan dan psikis. Tapi nasib yang berbeda di rasakan Ati, dia harus mengubur dalam dalam mimpinya untuk menikah, karena sekarang dia harus tidur di penjara di jantho Aceh Besar.

Tersiarnya kabar yang dialami Nek Non tidak terlepas dari peran incah. Setelah pada hari itu ia berhasil lolos dari upaya pembunuhan yang coba dilakukan Ati, incah langsung melapor ke geuchik. Dari situlah kabar tersiar cepat.

Berkat jasanya, incah diangkat sebagai manajer Nek Non. Dia sekarang yang  menjadwal kegiatan Nek Non. Dia mencoba menjadi manajer yang baik meski hanya lulus smp.

Sekarang Nek Non buka lagi Nek Non yang dulu, sayatan sayatan dan bekas pukulan yang membekas di tubuhnya telah mengubah jalan hidup Nek Non untuk selamanya. Kini dia bagaikan manohara. Manohara dari sibreh

“action..!”

Na lom café, 7 juli sehari sebelum pilpres 2009. 12.35

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s