BERTAHAN HIDUP DI KOMPLEK ZOMBIGARET

ZOMBIE3

Harapan itu nyaris hilang. Langkahku gontai menyusuri lorong gelap, bau dan becek ini. Tidak ada manusia. Memang ini bukanlah komplek manusia. Komplek manusia ada di sebelah. Namun kami tidak boleh mengaksesnya.  Temboknya terlalu tebal dan tinggi. Sampai-sampai kami tidak bisa memanjatnya. Apalagi  di atasnya juga dipasang kawat berduri berlapis-lapis.

Suasana di sini dan di sana berbeda sekali. Di sana, manusia bisa menikmati oksigen bersih, bebas polusi. Mereka  juga bisa bermain dengan langit cerah dan rumput yang hijau.

Di sini? Yah sudahlah. Terkadang aku malas membahasnya. Lagipula aku yang memutuskan untuk tinggal. Di komplek para zombie. Manusia menamainya “Komplek Zombigaret”.

Di tempat baruku ini penduduknya tidak bersosialisasi. Acuh terhadap sekitar. Belum lagi tampang mereka. Dingin tidak berekspresi. Sebagian di antara kami malah dadanya berlubang. Ada temanku yang wajahnya dikerubuti lalat karena daging busuk yang bergelantungan di mulutnya. Di sini banyak yang menderita kangker. Termasuk aku. Aku menderita kangker paru-paru.

Kamu tau bagaimana tempat tinggalku? Di sini asap mengepul tebal. Baunya membuatku muak. Batuk dan suara orang bengek terdengar bergantian. Langitnya hitam. Seperti kain hitam yang dibentang panjang. Di sini sulit sekali mencari O2 yang membuat paru-paru bisa mengembang sempurna.

Rumput hijau? Ah lupakanlah. Semua tertutupi dengan sampah. Darah dan nanah menempel di setiap dinding bangunan yang ada di sini. Suasananya memuakkan sekaligus menakutkan. Aku dan teman-teman hanya bisa pasrah. Setiap hari ada saja yang mampus. Bergantian satu demi satu.

Terkadang aku menyesal kenapa aku begitu bodoh. Menghancurkan hidup demi kenikmatan sesaat. Uang yang diberi Ibu habis untuk membeli barang sialan itu. Padahal ia sudah banting tulang bekerja menghidupiku

Ibuku tidak pernah tahu apa yang sesungguhnya kulakukan. Bagaimana aku berkenalan dengan racun yang mengubahku menjadi zombie. Pernah Ibu menolak memberiku uang. Kalau sudah seperti itu aku tinggal meminta kepada teman. Mereka juga tinggal di komplek ini. Sama sepertiku, mereka juga menyesal karena harus menyingkir dari kehidupan normal.

Sebenarnya kami tidak dipaksa untuk tinggal di sini. Kami sendiri yang memilihnya. Kami sadar keberadaan kami hanya membuat Ibu, teman, anak kecil dan siapapun mereka akan menderita. Awalnya aku tidak mau berpisah dengan Ibu. Tapi aku pikir keberadaanku disampingnya hanya akan membuat Ibu tersiksa. Aku pun memilih pindah kemari.

Sejak kami mengungsi keadaan komplek manusia semakin baik. Dari dinding yang sengaja kami lubangi, aku bisa melihat mereka bermain, bercanda, berkumpul bersama keluarga.

Tapi tidak dengan Ibuku. Kadang kadang ia duduk termenung di kursi taman. Beberapa kali aku melihatnya menatap ke arah komplek zombie. Mungkin Ia berharap bisa melihatku.

Sebenarnya setiap enam bulan sekali, otoritas kedua komplek memberi kesempatan kepada para penghuninya untuk saling bertemu. Tapi sayang kesempatan itu malah terasa janggal bagiku.

Kami bertemu di sebuah gedung yang di tengahnya terpasang plastik tebal, besi yang berjejer panjang. Jarak di antara kami sepuluh meter. Jangankan memeluk, berteriak saja juga tidak bisa. Gedung itu di-setting sedemikian rupa. Ruangannya kedap suara. Antara penghuni komplek manusia dan zombie hanya bisa saling melihat.

Yaahh kasarnya ini seperti kesempatan para manusia melihat apakah saudaranya masih hidup atau tidak. Apakah kangker paru-paru, mulut atau tenggorokan yang menjangkiti kami berhasil membuat kami mati atau tidak. Meski kami tahu jika mereka punya harapan yang sama. Kami dapat bertahan hidup!

Kalian tau kenapa kami menjadi zombie? Kebodohan kamilah yang membuat kami berubah menjadi monster menakutkan seperti ini. Kalian jangan mau menjadi zombie sepertiku. Berhentilah menjadi orang bodoh dari sekarang. Buang jauh-jauh racun sialan itu. Barang haram itu bukan saja menghabiskan uang tapi juga menggrogoti tubuhmu secara perlahan.

Mau kubisikkan racun itu? Tapi kalian harus janji untuk menjauhinya. Kalaupun sudah  terperangkap maka berjuanglah untuk bebas. Kemari mendekatlah. Biar kubisikkan apa nama barang sialan itu. Ia adalah ROKOK!

**

6 thoughts on “BERTAHAN HIDUP DI KOMPLEK ZOMBIGARET

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s