TAMU LIMA TAHUN SEKALI

Entah apalagi niat suaminya setelah menjadi dewan. Beli tanah, beli rumah, nambah istri lagi mungkin. Entahlah. Tapi niat buruk selalu berbalas sama. Mau jadi dewan kok datangnya lima tahun sekali.

Pintu depan digedor sedikit keras dan berulang ulang. Hari masih pagi. Bahkan terlalu pagi untuk bertamu ke rumah orang. Tapi siapa peduli. Kalau hajat tak bisa ditunda. Semua harus diselesaikan segera.

“Assalamualaikum..” suara perempuan setengah menjerit.

Ibuku yang sedang duduk di dalam kamar tergopoh gopoh membuka pintu. Karena mendengar gedoran pintu cukup keras.

“Ibu apa kabar??” kata seorang perempuan berkerudung putih ramah.

“Eh, Meli masuk masuk.” kata Ibuku tak kalah ramahnya.

Meli tetangga lama yang ngekost pas di samping rumah. Mereka lumayan lama ngekost disana. Bahkan anak nya juga lahir saat mereka menjadi tetangga kami. Mereka pindah ke desa sebelah namun masih dalam kecamatan yang sama. Semenjak itu tidak ada komunikasi yang terjalin.

“Jangan masuk lagi bu, Meli buru buru mau ke kantor belum absen lagi. Meli Cuma mau ngasih ini aja” Katanya sambil menyerahkan beberapa lembar kartu.

Aihh ternyata kartu suaminya yang hendak menjadi caleg. Sebagai seorang petinggi desa suami Meli sudah berulang kali mencoba peruntungan sebagai caleg. Tapi gagal terus. Mungkin suaminya terkenal tapi cuma sebatas di lingkungan keluarganya saja. Namun di kalangan masyarakat entahlah. Yang jelas pemilu 2014 ini adalah kali kedua dia mencoba duduk di kursi panas dewan.

“Pilih ya bu, sayang abang” kata Meli memelas.

Sayang, entah kenapa Meli menggunakan istilah itu. Apa karena khawatir jika tidak terpilih suaminya menjadi gila. Ancaman terberat caleg 2014 kan gangguan kejiwaan. Bahkan sangking besarnya potensi tersebut, Menteri Sosial minta RSJ sediakan ruang khusus bagi caleg stress. Duh

Mendengar permintaan Meli, ibuku hanya tersenyum. Setelah itu ia bergegas pulang. Ibu menatap heran.

Ini bukan kali pertama Meli datang menyambangi kami. Dia dan keluarga pernah datang lima tahun yang lalu. Ya lima tahun yang lalu. Waktu itu ia datang bersama suami. Waktunya juga sama seperti sekarang, menjelang pemilu.

Kami bernostalgia saat mereka masih menjadi tetangga. Tentang anak mereka yang senang bermain di rumah. Dan hal hal unik yang terjadi dulu. Tapi memang obrolan tentang itu hanya menjadi basa basi saja. Ibarat sajian makanan di restoran mewah, obrolan yang sedang di perbincangkan layaknya appetizer. Kami tau apa yang sebenarnya hendak disampaikan.

“Bu nanti pas pemilu, pilih abang bu ya. Kalian juga ya” kata Meli memelas meminta dukungan.

Kami yang ditanya senyam senyum saja. Ibuku yang paling bijak. Menanggapi keinginan Meli sekeluarga dengan tenang dan ramah.

“Nanti kalau abang jadi anggota dewan kami kan bisa beli tanah disini” sambung  Meli.

Jeger petir menyambar. Kami saling bertatapan. Sepertinya hati kami menyuarakan kalimat yang sama. Mau jadi dewan supaya bisa beli tanah. Hebat bener. Kita yang nyoblos kenapa malah dia yang jadi kaya raya. Padahal kalau mereka menyampaikan dengan cara yang lebih elegan, bisa jadi keluarga besar kami akan berbagi suara.

Bahkan yang lebih mengejutkan lagi saat si caleg alias suaminya Meli bersuara.

“Kalau bukan saya yang lain geulanteu semua”. Geulanteu bahasa Aceh yang artinya petir. Suami Meli ingin bilang jika caleg yang lain tidak ada yang benar. Semua salah. Semua tidak berkualitas. Busuk dan tidak patut untuk dipilih. Kami terdiam. Menelan ludah dalam dalam. Ini caleg apa preman sih.

Setelah mereka pulang rumah menjadi gaduh. Semuanya berbicara menyampaikan pendapat. Di keluarga besar kami semua anak mendapat hak untuk menyampaikan ide, gagasan, cara pandang. Keluarga kami benar-benar demokratis. Hampir semua menyampaikan pandangan yang sama. Jika suami Meli tidak boleh di dukung. Jika mendukung berarti merusak demokrasi dan tatanan bangsa . [berat bener]

Begitulah karena komunikasi istrinya yang buruk akhirnya suaminya tidak terpilih. Bahkan di TPS tempat kami tinggal suaranya nol.

Mungkin sore setelah pencoblosan mereka ngecek. Berapa jumlah suara yang di dulang. Pasti mereka kecewa berat. Setelah silaturrahmi penuh nuansa politis itu, ternyata tak memberikan efek.

Makanya pemilu kali ini mereka datang lagi. Sehari sebelum pemilu. Dia datang saat masa tenang tiba. Datang dengan tergopoh gopoh. Tak sempat bicara apalagi mendengar uneg uneg kami sebagai warga. Bahkan sempet nitip pula kartu itu untuk dibagikan kepada tetangga.

Entah apalagi niat suaminya setelah menjadi dewan. Beli tanah, beli rumah, nambah istri lagi mungkin. Entahlah. Tapi niat buruk selalu berbalas sama. Mau jadi dewan kok datangnya lima tahun sekali.

 ***

Haba cafe, 08042014

13 thoughts on “TAMU LIMA TAHUN SEKALI

  1. Arieeelll…I love this article. Hana kureung bumbu meu bacut, minimalis tapi kinclong. Ditunggu tulisan2 lain ya🙂

  2. Wah, sama pengalamannya kayak saya kemarin. Rumah didatangi tetangga yg sebenarnya lebih terkenal sebagai public enemy. Tapi kemarin tumben datang, ngomong dengan halus. Ooh, ternyata mau cari dukungan buat saudaranya yang nyaleg juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s