JANGAN GOLPUT PLISSS

Menghitung hari. Pesta demokrasi Indonesia kini tengah menghitung hari. Makin kemari suasananya semakin meriah lagi ramai. Lokasi kampanye dijejali warga. Bendera dan umbul umbul menari menari, bersama alam dan angin yang bertiup sepoi-sepoi. Semua nya gembira. Pesta akan segera tiba.

Tapi ternyata masih banyak yang berduka menjelang pesta. Berduka karena ada darah yang berceceran. Ada air mata yang menetes bahkan deras menganak sungai. Ada pula yang tak gembira karena merasa pesta ini selayak neraka.

Menurut mereka pesta di gelar oleh orang orang berdasi tapi tutur katanya basi. Berwajah tampan tapi ternyata seperti tempayan. Bergincu tebal layaknya ban yang ditambal-tambal. Akhirnya mereka memilih menjadi manusia manusia golput alias golongan putih. Tak memilih adalah solusi. Memihak adalah gengsi.

Lalu mengapa harus golput? Apa karena ingin menjadi beda. Atau ingin menambah satu warna. Putih selalu saja dianggap bersih dan suci. Tapi menurutku tidak. Dalam konteks pesta yang satu ini, putih tidaklah suci. Bahkan putih itu adalah hitam. Karena suci itu beranjak dari sini, ya dari hati. Hati yang bersih dan pikiran yang jernih. Dari sanalah semua bermula. Golongan putih sebenarnya adalah mereka yang memilih menggunakan nurani dan hati.

Banyak dari pengikut golput berkilah jika pesta ini tidak memberi solusi. Rakyat tetap saja lapar. Korupsi masih saja merajalela dan mengakar serta penguasa yang tak pernah kenyang. Bagi mereka Golput dianggap dapat membantu negara ini bangkit. Bangun dari keterpurukan dan kehinaan.

Padahal mereka lupa jika tak memberi suara, hanya akan membiarkan negara ini menghujam lebih dalam. Mengambang tak seimbang. Negara ini harus diselamatkan. Masih banyak orang baik dinegeri ini. Golput lagi lagi tak memberi solusi. Hanya akan mempercepat negara ini mati.

Dari banyak alasan mereka yang memilih golput adalah latar belakang partai yang tidak bersih. Caleg yang berselemak dosa. Demokrasi adalah haram. Tapi anehnya mereka berkoar koar kala BBM naik atau disaat harga sembako melambung tinggi. Mereka kembali menyalahkan orang orang yang duduk diparlemen dan pemerintah. Tapi dulu mereka tidak penah memilih dan peduli. Benar benar sebuah perilaku aneh dan menyimpang.

Kalaupun benci sama partainya, pilih saja orang nya. Bukankah dari banyak caleg yang muncul, masih ada orang orang yang baik hatinya, yang santun perkataanya. Oh tidak dekat dengan mereka, sekarang waktu yang tepat untuk berkenalan, bertanya, dan berdiskusi. Tanya apa saja. Biarkan caleg caleg itu menjawab semua kegundahan dan kekhawatiran kita. Ini saat yang tepat menguji mereka. Benarkah mereka serius melayani warga atau hanya berpura pura.

Bayangkan jika parlemen kita dihuni para mafia. Lalu presiden kita hanya menjadi boneka. Mau jadi apa negara kita tercinta. So mari kita selamatkan negara ini. Bangsa ini masih ada peluang untuk maju dan besar. Pilih partai dan caleg yang paling baik. Karena asa itu masih ada.

Jangan Golput Plisss…

**

24 thoughts on “JANGAN GOLPUT PLISSS

  1. kalimat-kalimat di kampanye sekarang rada-rada overdosis, seperti: “pilih saya, jangan yang lain …”

    menurut saya itu double action. selain itu, surat suaranya juga pasti bisa rusak karena dua kali coblos hehe …

  2. Setuju…
    Sayang kalau kita golput, calon yang baik jadi kurang suara. Makanya kita harus cari tahu tentang partai dan calon-calon sebelum memilih. Paling nggak, kita memilih yang terbaik di antara yang buruk.

  3. Tema di atas nyambung banget dengan tema obrolan saya dan adik saya bbrp hari ini. Intinya lebih baik nyoblos daripada golput. Golput tidak memberi solusi, malah memberi kesempatan kepada orang-orang yang tidak baik untuk memegang kendali negeri ini. Kalau saya sih udah punya pilihan alhamdulillah

  4. Menarik bang, setahu saya golput hnya dikenal org2 “hebat” di kota saja. Di kampung tdak berlaku demikian, misalnya saja ad yg berhlngn hadir akn didatangi k rumh olh petugas yg sdh ditentukan usai di TPS. Org pun beralasan tdk hdir biasanya krn sakit dll.

  5. Faktanya masih ada saja diantara teman saya yang masih memilih golput, padahal sudah dijelaskan seperti tulisan abang ini. lalu, dengan cara bagaimana lagi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s