MASBULOH, “SETAN” YANG MENGHANTUI INDONESIA

masaalah-buat-lohKata masbuloh –masalah buat loh- memang sedang ngetrend. Tidak hanya dikalangan anak gaul tapi kata ini juga menyebar ke banyak orang. Ibarat virus kata masbuloh menyerang orang tanpa mengenal usia dan golongan. Masbuloh sendiri memang menjadi istilah baru meski kalimat “masalah buat loh” sudah duluan dipakai. Ketenaran kata ini semakin menjadi jadi saat dimasukkan sebagai penggalan kata dalam sejumlah iklan, khususnya iklan di Televisi.

Salah satu iklan yang menggunakan kata ini adalah sebuah provider telepon seluler. Dalam iklan tersebut kata masbuloh diucap berkali kali. Tampak jelas ekspresi kesal dari wajah model yang sedang jatuh cinta itu, kala temannya menanyakan sesuatu. Masbuloh menjadi kata ampuh untuk mengatakan bahwa “ini masalahku bukan masalahmu”!. Dengan kata lain, cukup mengatakan masbuloh maka orang dipaksa untuk mengerti dan memahami bahwa orang lain tidak berhak mengurusi diri kita.

Saya masih ingat cerita ketika kanak kanak dulu. Saat azan magrib berkumandang itu menjadi tanda untuk segera masuk ke dalam rumah. Shalat dan mengaji. Tidak lazim pada saat magrib orang berkeliaran di luar apalagi untuk anak anak. Uniknya kalau ada anak anak yang masih bermain di jam tersebut maka siap siap untuk dimarahi. Yang memarahi pun bukan Pak sama Mak. Tapi anak anak kost.

Dengan bermodalkan daun yang dipetik dari pohon kuda kuda –ngak tau apa namanya-, Para abang abang kost itu seperti menunggu moment yang tepat.

“Hai goh ka woe lagoe”

Kalau perlu kalimat itu diteriaki dari jarak jauh. Semakin besar suara mereka maka semakin menyeramkan. Kalau sudah seperti itu pasti kami langsung pulang sambil berlari kencang menghindari “serangan” anak kost.

Cerita lain yang sering saya dengar adalah dulu kalau ada anak anak yang merokok pasti ditegur. Yang negur juga ngak mesti orang tuanya. Siapa saja yang kebetulan lewat pasti bereaksi. Kalau perlu dimarahi sampai anak tersebut melempar rokoknya dan ngibrit melarikan diri.

Itulah kondisi zaman dulu, eratnya ikatan sosial. Rasanya sulit melihat kepedulian seperti itu di zaman sekarang. Kalau zaman sekarang kita negur seseorang yang bukan anak atau saudara, pasti yang ditegur marah. Cukup bilang Masbuloh. Selesai urusan.

Padahal dalam agama pun diajarkan untuk saling nasehat menasehati. Karena Tuhan tau manusia ini sebenarnya rapuh. Kadang benar dan kadang pula salah. Bahkan sering salahnya daripada benarnya. Makanya kenapa Tuhan meminta agar sesama manusia itu saling mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran. Tapi yah itu giliran mau diingatkan pasti diserang balik dengan “masbuloh”.

Ibarat “setan” yang menghantui Indonesia, Masbuloh memang sudah selayaknya di usir dari negeri ini. Agar Bangsa ini tidak kehilangan jati diri yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan peduli terhadap sesama.

**

Hai goh ka woe lagoe : Hai kok belum pulang

24 thoughts on “MASBULOH, “SETAN” YANG MENGHANTUI INDONESIA

  1. Media elektonik (televisi) menyumbang peranan yg besar dalam penurunan adat ketimuran indonesia… betapa tidak, banyak sinetron yang menyiratkn tentang kebaikan tapi yang di tampilkan lebih banyak tentang ketidak sopanan verbal n prilaku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s