AKHIRNYA, ATHEIS JUGA YANG JADI JUARANYA

Makan malam sudah tiba. Dari semua rangkaian kegiatan selama di Tianjin China ini adalah salah satu moment terfavorit. Sejak konser  di depan masyarakat lokal selesai di gelar maka makan malam adalah acara berikutnya.

Di China menemukan masakan halal termasuk sulit. Hampir sepekan di China baru di hari terakhir pihak travel mengajak kami makan malam di restoran muslim. Sedangkan di hari hari lainnya kami makan di restoran tanpa sertifikasi halal. Kalau sudah begitu aku memilih makan nasi putih saja. Untuk lauk jelas aku akan menghindari semua jenis daging. Hanya sayur dan ikan, itupun juga kalau tidak dicampur arak. Semua tergantung Cindy.

Cindy temanku asal Jambi. Dia seorang penganut ajaran Budha. Dalam barisan paduan suara, Cindy tergabung dalam kelompok suaran sopran. Suara tinggi perempuan. Selama di China Cindy lah yang menjadi pendampingku tiap kali jam makan tiba. Kami selalu duduk dalam satu meja yang sama. Bahkan dia pula yang menemaniku mencari tempat Shalat kalau kebetulan kami berada di luar Hotel. Selain pintar bernyanyi Cindy juga fasih berbahasa mandarin. Kabar terakhir yang aku tau kalau Cindy sedang berada di Jerman. Dia melanjutkan sekolah disana. Kabar itupun aku dapat tiga empat tahun lalu.

“Bang Ariel, ini daging, ini sayur pake alkohol, oh ini aman ni makanannya”

Kalimat semacam itulah yang biasa disampaikan Cindy sebelum kami menyantap makanan. Penggalan kalimat pendek itu cukup membuatku faham. Apa makanan yang bisa aku makan dan mana yang tidak.

Jika waktu makan tiba maka siapapun boleh memilih rekan satu meja. Bebas tidak ada aturan baku. Nah pernah ada kejadian menarik. Waktu itu aku semeja dengan Cindy, Bli Agus dari Bali. Dia penganut Hindu yang taat. Dan yang terakhir adalah Juliuas anak jakarta yang ngaku nya Atheis. Dia ngaku jadi Atheis karena malas ke Mesjid ataupun ke Gereja.

Tapi pernah ketika di dalam Bus, penampilan Julius tampak beda. Aku tanya kok hari ini penampilan nya beda dengan sebelumnya. Jawabannya sontak bikin aku kaget.

“Aku sebenarnya udah jadi muslim lho Riel sejak beberapa bulan lalu” katanya sambil menggunakan kerudung meski dia laki laki. Hellooo..

Kembali ke meja makan. Saat makanan tiba makanan yang disajikan adalah menu serba daging, sayuran dan tentu saja nasi. Aku, Cindy dan Agus hanya bisa melongo. Selera makan kami hilang. Tapi tidak dengan Julius. Dia tetap bersemangat.

Aku sejak awal memang menghindari makanan daging. Cindy tidak juga makan daging karena dia seorang vegetarian. Agus tidak makan daging sapi karena itu juga dilarang. Maka satu satunya yang merdeka adalah Julius.

Dia dengan lahap menikmati hidangan di atas meja. Sesekali Julius minta maaf karena tau kami tidak bisa makan selahap dia.

“Aku tu seneng banget bisa semeja dengan kalian” kata Julius sumringah. Tapi kali ini ngak pake kerudung.

Aku, Cindy dan Agus hanya menyantap nasi putih dan sayur. Kalau urusan makanan begini, atheis juga yang jadi juaranya.

**

12 thoughts on “AKHIRNYA, ATHEIS JUGA YANG JADI JUARANYA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s