MAKAN MALAM DI BHOJAN GRIHA

Bicara Kathmandu Nepal memang tidak pernah habis. Mulai dari Boudhanath, Stupa terbesar di Asia Selatan hingga Mesjid Kashmiri yang menyimpan banyak cerita. Pengalaman lain yang aku dapatkan ketika berada di Kathmandu adalah saat menikmati makan malam yang romatis di Restauran yang sangat spesial. Apalagi kalau bukan di  Bhojan Griha.

Bhojan Griha tampak dari depan. (taken from bhojangriha.com)

Bhojan Griha tampak dari depan. (taken from bhojangriha.com)

Bhojan Griha atau dalam bahasa inggris nya Milk House adalah Restauran berkelas. Meskipun namanya Milk House namun Restauran yang berada di Dillibazar Kathmandu ini tidak menjual susu hehe. Menuju ke Bhojan Griha harus melawati jalanan yang gelap. Ya Kathmandu memang masih mengalami krisis listrik. Selain gelap, jalan yang kami lalui juga lumayan berliku dan sempit. Kami harus melewati beberapa ruas jalan yang rusak dan sesekali menyempil di sela sela pertokoan yang tampak tua. Penerangan jalan hanya dari sorotan lampu mobil yang lalu lalang.

Bhojan Griha disebut eksklusif karena bangunannya menggunakan bekas Istana Raja yang dibangun 150 tahun lalu. Bangunan ini sempat berada di ambang kehancuran dan memprihatinkan sebelum akhirnya direnovasi. Sebelum direnovasi Pintu dan jendela bangunan ini sudah tidak utuh dan dibiarkan hancur begitu saja. Bhojan Griha pernah hanya menjadi bangunan kosong tak bertuan.

Old Bhojan Griha (taken from bhojangriha.com)

Old Bhojan Griha (taken from bhojangriha.com)

Old Bhojan Griha (taken from bhojangriha.com)

Old Bhojan Griha (taken from bhojangriha.com)

Old Bhojan Griha (taken from bhojangriha.com)

Old Bhojan Griha (taken from bhojangriha.com)

Old Bhojan Griha (taken from bhojangriha.com)

Old Bhojan Griha (taken from bhojangriha.com)

Salah satu tujuan direnovasinya Bhojan Griha adalah mendorong pemerintah agar mengeluarkan peraturan untuk melindungi bangunan bersejarah. Keberadaan bangunan lama ini dianggap sebagai cara paling efektift untuk memperkenalkan Nepal tempo dulu kepada mereka yang berkunjung ke negeri atap dunia ini. Namun sayangnya beberapa bangunan memang dibiarkan begitu saja tanpa ada penataan yang baik. Akhirnya usang dimakan usia.

Sesampai di depan Bhojan Griha acara penyambutan pun sudah disiapkan. Tidak terlalu meriah sih, namun tetap elegan. Di depan pintu masuk sudah berdiri seorang perempuan dengan pakaian adat. Dia bertugas menempelkan tilaka disetiap kening para tamu. Tilaka ini memang sudah menjadi bagian dari adat Nepal. Tamu berbaris rapi menunggu giliran keningnya di tempeli talika, tepung berwarna merah . Welcome to Bhojan Griha.

Dari tempat perempuan tersebut berdiri kami harus melewati lorong dan menaiki sejumlah anak tangga menuju ke tempat makan. Disepanjang lorong tergantung foto foto Bhojan Griha masa lalu. Dari foto tersebut aku dapat melihat kerusakan parah yang terjadi pada bangunan ini. Konon renovasi dan rekonstruksi memakan waktu selama enam tahun. Membutuhkan dana miliaran Rupiah untuk menata bangunan ini tanpa harus menghilangkan jejak sejarah yang masih tersisa. Renovasi dilakukan oleh masyarakat lokal. keterlibatan Masyarakat setempat sebagai pekerja untuk mempertahankan nilai sejarah yang terdapat di bangunan ini.

Bhojan Griha memiliki banyak ruangan. Kami menempati ruangan yang paling besar yang terlentak di lantai dua. Masuk kedalam ruangan tersebut harus membuka alas kaki. Ruangannya bersih dan tertata rapi. Ruangan di Bhojan Griha mampu menampung hingga 250 tamu.

sisi lain dari Bhojan Griha (taken from bhojangriha.com)

sisi lain dari Bhojan Griha (taken from bhojangriha.com)

Layaknya sebuah Restauran, Bhojan Griha juga memiliki beberapa ruangan lainnya yang kemudian diisi dengan banyak meja sesuai dengan jumlah tamu. ada meja yang berisi empat kursi atau meja yang digabung menjadi satu, memanjang yang bisa memuat tamu hingga 40 orang seperti yang dipersiapkan untuk kami. Meja disini tingginya hanya sebetis dan tidak ada kursi disini. Tamu duduk lesehan dengan bantal sebagai alas. Penerangan di ruangan ini hanya mengandalkan lilin dan lampu minyak. Lantai terbuat dari kayu yang tetap menggunakan kayu asli dari bangunan ini. Suasananya dibuat begitu nyaman. Kalau bukan karena urusan makan sepertinya aku memilih untuk tidur hehe.

“Ini termasuk Restaurant paling eksklusif dan mewah yang ada di Kathmandu bahkan di Nepal” kata Rajan temanku sesaat kami duduk.

“Really?” tanyaku memastikan.

Rajan yang duduk persis di sebelahku menggoyangkan kepala khas orang Hindustan. Darinya aku mendapatkan banyak informasi tentang  Bhojan Griha, soalnya dia penduduk asli disini.

Meski Restauran ini disebut sebut sebagai tempat elit namun harganya masih terjangkau. Harga makanan yang ditawarkan relatif murah jika dibandingkan dengan suasana dan pelayanannya yang sempurna. Harga dibedakan antara turis asing dengan masyarakat lokal. Bagi turis asing setiap orangnya dikenakan USD 20 atau berkisar 200 ribuan rupiah. Sedangkan untuk warga lokal sebesar 1500 nepal rupee atau berkisar 150 ribu Rupiah.  harga tersebut sudah termasuk pajak 10 persen.

Salah satu kekhawatiranku kalau ke tempat makan khususnya jika ke luar negeri adalah adalah halal tidaknya makanan tersebut. Syukurnya Bhojan Griha  menawarkan berbagai makanan. Mulai dari makanan untuk  vegetarian hingga halal food. Jadi muslim yang bertandang kemari tidak perlu khawatir. Silahkan menikmati makanan Newari dengan berbagai sajian daging dengan rasa tenang dan nyaman.

Meski demikian seperti memang sudah menjadi tradisi, jika setiap tamu yang datang akan didatangi pelayan sambil membawa aila atau alkohol produksi lokal. Cara menuangkan aila juga sangat menarik. Air dituang dari amkhora, cerek yang terbuat dari kuningan dari jarak tertentu. Caranya sama seperti yang pernah kulihat di tempat tinggalku Banda Aceh. Bedanya ditempatku kami melakukannya untuk membuat secangkir kopi yang nikmat.

“Kenapa kamu tidak menikmati aila?” tanya Rajan yang bingung melihat aila ku masih utuh.

“Aku tidak suka Alkohol. Kamu mau?” tanyaku

“Rasanya kuat sekali. Aku cukup satu gelas saja” kata Rajan menolak tawaranku.

Akhirnya aila ku utuh sampai kami pulang.

Layaknya Restauran mewah, di Bhojan Griha juga membagi makanan ke dalam tiga sesi yaitu appetizer, main course, dan makanan penutup atau dessert. Makanan pembuka yang disajikan kepada para tamu seperti momo, badam dan aloo tareko. Momo adalah bakpao kecil yang berisikan daging ayam. Sedangkan badam yaitu kacang yang dicampur cabe dan bawang merah. Sementara aloo tareko adalah kentang goreng. Yang terakhir adalah makanan favoritku.

Makanan pembuka terdiri dari aila, momo, badam

Makanan pembuka terdiri dari aila, momo, badam

Ternyata makanan tersebut belum cukup, para pelayan juga masih menyungguhkan makanan lainnya. Ingat ini masih makanan pembuka ya. Makanan lain yang Menyusul seperti bara dan kwatti ko jhol. Bara adalah roti yang dibakar berbentuk omelet yang tebal. Sedangkan kwatti ko jhol sup berisi kacang kedelai yang biasanya di sajikan saat musim dingin agar badan terasa lebih hangat.

Bara rasanya lezat.

Bara rasanya lezat.

Kwanti, sup yang menghangatkan

Kwanti, sup yang menghangatkan

Kesemua Makanan tersebut disajikan dengan cepat oleh para pelayan. Aku menghitung setidaknya ada empat atau lima orang pelayan yang hilir mudik. Mulai dari menuangkan aila, dan mengantarkan makanan pembuka. Makanan ini cukup mengganjal perut untuk beberapa saat sampai akhirnya makanan utama tiba.

“bluk” suasana mendadak gelap.

Seorang pelayan mematikan panos, lampu minyak khas Nepal yang terdapat di antara Ankhijyal. Ini adalah bagian dari jendela yang berbentuk seperti susunan mata. Kami yang sedang asik mengobrol terkejut. Tapi tidak lama karena kemudian sejumlah penari datang memasuki ruangan. Penerangan di ruangan hanya berasal dari lilin yang disusun rapi diatas meja.

“Kenapa lampunya dimatikan?” tanyaku pada Rajan.

“Tenang saja, nanti kamu juga akan tau” katanya sedikit berpromosi.

Musik mulai dimainkan. Suling dan gendang bercampur menjadi satu. Para penari menampilkan tarian rakyat yang berasal dari Terai sebuah wilayah selatan Nepal. Tarian ini memang dimainkan dalam suasana gelap. Para penari berlenggak lenggok dengan api di kepala diiringi musik tradisional. Akhirnya aku baru faham kenapa suasana harus dibuat gelap.

Setelah tarian ini usai, panos pun kembali dinyalakan. Eeiits tarian belum usai. Sepanjang kami menikmati hidangan tarian dan nyanyian terus saja berlangsung. Musik serta tarian hanya berhenti ketika penari berganti kostum. penari menampilkan tamang selo dance dan Sorathi dance yang berasal dari daerah berbeda di Nepal. Menariknya pemain musik laki laki sesekali membunyikan suara kambing yang disambut oleh penari perempuan dengan suara yang sama. Kami pun tertawa.

Sorathi Dance

Sorathi Dance

Tidak lama kemudian para pelayan kembali mendatangi setiap meja para tamu. Akhirnya makanan utama datang juga. Lumayan lama juga kami menunggu makanan tersebut, lebih dari satu jam. Mungkin makanan yang disiapkan dalam jumlah yang banyak sehingga perlu waktu yang lebih panjang dari biasanya. Tapi tak apalah hiburan tadi sangat menghibur dan membuat kami melupakan sejenak main course nya.

Para pelayan yang datang menghampiri para tamu berseragam kurta longgar ditambah topi khas Nepal yang bercorak kotak kotak atau segitiga dengan warna merah, kuning dan hijau.  Mereka datang bersama thall, gilas dan kachaura. Nama nama tersebut bukanlah nama artis ibukota Nepal, melainkan peralatan makan. Thall artinya piring, gilas berarti gelas sedangkan kachaura adalah kobokan alias tempat cuci tangan. Semuanya terbuat dari kuningan.

Makanan utama disajikan dalam Thaal.

Makanan utama disajikan dalam Thaal.

Thall nya berukuran besar. Nasi yang di steam ditempatkan ditengah piring, sedangkan di sekelilingnya ada ikan goreng, kari ayam dan sayuran brokoli. Biasanya di Nepal ataupun di India boleh menambah nasi tanpa bayaran tambahan. Tapi kali ini aku tidak memanfaatkan peluang itu. Aku kenyang! Sama seperti Rajan yang memegang perutnya yang mendadak besar hehe.

Makan malam ditutup dengan dahi. Dahi adalah sejenis yogurt yang ditempatkan pada sebuah mangkuk kecil. Di sejumlah tempat dahi disebut dalam nama yang berbeda. Di Bengali dahi disebut Doi, sedangkan di Kannada dahi disebut dengan Mosaru. Sementara di Tamil dahi dikenal dengan nama Thayir. Sama dengan aila, aku juga tidak menyentuh dahi. Aku angkat tangan. Menyerah!

inilah semua makanan yang disajikan untuk setiap tamu yang datang (taken from bhojangriha.com)

inilah semua makanan yang disajikan untuk setiap tamu yang datang (taken from bhojangriha.com)

Kini saatnya pulang. Tidak berlebihan rasanya jika menempatkan Restoran ini di level kelas atas. Penyajian nya nyaris sempurna. Semua dilakukan dengan begitu detail dan tertata. Di Bhojan Griha kita tidak hanya mencicipi makanan yang lezat, namun disini kita juga dapat mempelajari bagian kecil dari sejarah Nepal dari jarak yang lebih dekat.

**

9 thoughts on “MAKAN MALAM DI BHOJAN GRIHA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s