CERITA SANG CALO BANDARA

Dulu ketika Bandara Sultan Iskandar Muda atau juga dikenal dengan Bandara Blang Bintang belum sebagus dan berkelas internasional seperti sekarang, masyarakat Aceh yang ingin ke Malaysia harus ke Medan terlebih dahulu. Tujuan yang paling sering di sasar adalah Pulau Penang. Biasanya niatnya untuk berobat, setelah itu baru berpikir untuk jalan jalan. Aku juga beberapa kali ke Pulau Penang melalui Polonia Medan untuk berbagai keperluan.

Sebelum tsunami Aceh 2004 pesawat yang terbang ke Banda Aceh cuma ada Garuda Indonesia. Pesawat milik BUMN ini terbang sebanyak dua kali setiap harinya. Pagi dan sore hari dengan tujuan jakarta setelah transit terlebih dahulu di Polonia Medan. Baru setelah itu sejumlah penerbangan lain membuka rute ke Banda Aceh seperti maskapai Jatayu Airlines dan Kartika Airlines. Sayang kedua pesawat tersebut kini tidak lagi beroperasi.

Tower Bandara Polonia Medan (taken from panoramio.com)

Tower Bandara Polonia Medan (taken from panoramio.com)

Nah biasanya maskapai penerbangan yang dipilih oleh masyarakat Aceh jika berpergian ke Penang adalah Jatayu Airlines. Terbang pada pagi hari dari Banda Aceh, pesawat ini turun di Polonia Medan kemudian dengan pesawat yang lainnya penumpang diterbangkan ke Penang. Tentu saja setelah melewati pemeriksaan paspor di Imigrasi.

Bicara tentang paspor aku punya pengalaman menarik ketika membuat paspor untuk pertama kali. Waktu itu tahun 2004 Aceh masih dalam kondisi darurat militer. Mereka yang mau ke luar negeri sangat sulit termasuk ketika mengurus paspor. Mengurus paspor tidak cukup di Imigrasi saja. Proses administrasinya dilakukan sejak Kantor Desa, Camat hingga Kepolisian Daerah. Semuanya itu melalui proses yang lama dan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Karena disetiap pos dikenakan “biaya”.

Tentu jika dibandingkan dengan sekarang kondisinya jauh berbeda. Kini mengurus paspor cukup di Imigrasi saja. Mengisi formulir, melengkapi administasi lain seperti foto copy ktp, Kartu keluarga dan surat pengantar dari dinas jika sudah bekerja plus membayar biaya paspor. Tidak sampai sepekan paspor sudah siap.

Kunjunganku ke Pulau Penang pertama kali kulakukan pada tahun 2004. Waktu itu aku pergi bersama ibu dan adik perempuanku.  Seperti biasa dari Banda Aceh kami terbang ke Medan dengan Jatayu Airlines. Turun di Polonia Medan kami pun pergi ke terminal internasional. Mungkin karena tampang kami lugu dan polos kami pun dikerjai calo.

“Paspornya mana?” tanya seorang Bapak bertubuh tambun ketika kami berada di pintu masuk Terminal Keberangkatan Internasional.

Ditanya dengan pertanyaan seperti itu, aku, ibu dan adikku dengan polos menyerahkan paspor kepada petugas gadungan itu. Ujung cerita kami harus membayar masing masing 75 Ribu Rupiah untuk jasa pengurusan check in dan bayar airport tax. Hanya mengurus dua item itu saja, kami harus mengeluarkan uang 200 Ribu Rupiah lebih. Jumlah itu di luar airport tax yang juga harus kami keluarkan. Ya sudah kami pasrah. Sepertinya di Polonia Medan ini siapapun bisa jadi calo. Mulai dari petugas tiket hingga orang berpakaian bebas yang tentunya punya link dengan pihak Bandara.

Dikerjai calo bukan kali itu saja. Saat pergi dengan adikku Ferhat aku juga mengalami nasib yang sama. Padahal kami berdua sudah bersepakat jika sampai di terminal internasional Polonia siapapun yang mendekati  tidak usah di peduliin.  Ferhat mengangguk semangat seperti mau ke medan perang.

Saat mendarat di Polonia penumpang kemudian dibagi ke dalam beberapa bus. Bus transit tujuan Jakarta dan bus tujuan Medan. Aku dan Ferhat memilih bus tujuan Medan karena akan mengambil bagasi dan kemudian check in di terminal keberangkatan internasional.

Baru saja duduk di dalam bus, seorang petugas bertanya

“Ada yang mau ke terminal internasional?” aku dan ferhat mengancungkan tangan.

“Boleh liat paspornya?” kemudian kami menyerahkan masing masing paspor kami yang di dalamnya terselip tiket keberangkatan berikutnya.

Petugas itu membolak balik paspor kami. untuk apa kami juga tidak tau. Saat bus berhenti petugas kemudian turun dan lari sambil membawa paspor kami.Aku dan Ferhat panik. Tapi tidak mungkin dikejar karena ada bagasi yang harus diamankan. Setelah mendapatkan bagasi kami langsung menuju terminal keberangkatan internasional. Kami mencari di mana petugas edan itu. Rupanya dia sedang mengurus keberangkatan kami.

Aku dan ferhat emosi karena merasa dipermainkan. Ujung ujung petugas itu meminta uang jasa. Aku menolak tapi karena takut terjadi apa apa terpaksa kami membayar 100 ribu untuk dua orang. Kami kalah bahkan sebelum berperang.

Tapi tidak selamanya kami berhasil dikerjai calo. Pada kunjungan lainnyanya aku dan kedua kakakku kembali bertekad untuk melawan calo di Polonia Medan. Saat di ruang tunggu Bandara Blang Bintang, kami melihat seorang Bapak yang membawa bantal bersama anaknya. Ketika kami tanya mau kemana beliau menjawab mau ke Penang berobat kanker. Merasa prihatin kami pun menawarkan diri agar sampai di Medan nanti semua proses check in biar kami yang urus. Mereka tampak senang karena mengaku kurang faham dengan proses check in dan proses lainnya di Imigrasi nanti. Dalam hatiku kalau dibiarin bisa bisa si Bapak jadi korban calo berikutnya.

Singkat cerita kami pun terbang dan akhirnya landing di Bandara Polonia. Seperti dalam bayangan kami sesampai di pintu terminal keberangkatan Internasional Polonia Medan Bapak berpostur tambun itu menyapa dengan ramah tapi dengan misi yang berbahaya. Karena memendam dendam sejak lama aku mengatakan “biar kami urus sendiri”. Si Bapak diam dan kami merasa menang haha. Akhirnya!

Tapi itu semua cerita lama. Biarpun pernah menjadi korban calo setidaknya semua itu menjadi pengalaman menarik dan berharga tentunya.

Kini jika ingin ke Malaysia dari Banda Aceh sudah tidak perlu lagi harus ke Medan. Karena dari Blang Bintang kita bisa langsung terbang ke Pulang Penang dengan firefly dan ke Kuala lumpur dengan maskapai Air Asia Malaysia. Bahkan dengar dengar Garuda Indonesia juga akan membuka penerbangan dari Banda Aceh ke Kuala Lumpur dan Penang pada tahun depan.

Syukurnya hingga kini aku belum pernah menemukan calo diterminal keberangkatan internasional di Bandara Sultan Iskandar Muda. Semoga saja kenyamanan yang sudah terjaga dapat terus dipelihara.

**

13 thoughts on “CERITA SANG CALO BANDARA

  1. Kepincangan begini memang sering terdapat di banyak airport di merata dunia . . . walaupun di negara2 yg kononnya sudah ‘bertamadun’ tinggi! Manusia2 ‘calo’ begitu memang gemar mempamerkan ‘kuasa’ yg sekelumit itu . . . kerana itulah saja ‘kuasa’ yg mereka pernah ada! Kesian . . . miskinnya jiwa mereka yg berperangai sedemikian. Walahuaklam.

  2. tapi kadang ada gunanya juga calo2 ini, pernah dulu bbrapa x bnr2 nyari mereka gara2 kecapekan setelah flight 16 jam, sampe medan g sanggup mikir tiket lg, dan alhasil gunain mereka buat nyelesain smua urusan – walopun ntah apa urusannya dr medan ke banda tu😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s