TERBANG KE TRIBHUVAN INTERNATIONAL AIRPORT

Terbang ke Nepal sempat membuatku was was. Dalam pikiran terbayang penerbangan yang menakutkan. Salah satunya adalah kecelakaan pesawat. Aku dan temanku Nola punya bayangan yang sama. Tapi kami berdua memilih diam. Dengan Bismillah kami pun terbang ke negara berjuluk atap dunia itu.

Tribhuvan International Airport (taken from panoramio,com)

Tribhuvan International Airport (taken from panoramio,com)

Image

Tribhuvan International Airport (taken from wikipedia)

Dari Hongkong kami terbang ke Kathmandu menjelang magrib. Selama dalam perjalanan beberapa kali pesawat yang kami tumpangi berguncang hebat. Entah karena terbang pada malam hari atau karena ketinggian jelajah yang spektakuler tinggi. Yang jelas pesawat Dragon Air yang kami tumpangi beberapa kali masuk ke dalam gumpalan awan putih dengan kilatan yang menyambar. Bakal jatuh ngak ya….

Penerbangan ke Nepal dibayangi kekhawatiran. Hal yang sempat terlintas adalah bagaimana jika pesawat ini menabrak gunung. Nepal kan negara yang memiliki banyak gunung yang menjulang tinggi. Kekhawatiran ini cukup beralasan, pada tanggal 31 Juli 1992 lalu pesawat Airbus A310 milik Thai Airways International menabrak sebuah gunung saat mendekati Kathmandu. Kecelakaan tersebut menewaskan seluruh penumpang dan kru pesawat. Huft.

Sebelum berangkat ada kejadian menarik sekaligus menegangkan. Aku dan Nola hampir saja ketinggalan pesawat. Karena ketika masuk jam magrib aku memilih shalat ke prayer room yang ada di Bandara Hongkong. Sebenarnya ini bukan mutlak kesalahan kami. Sejak transit di Hongkong kami memang sudah menunggu di depan gate keberangkatan. Namun karena transit nya sampai empat jam kami memilih berkeliling Bandara Chek Lap Kok yang terkenal luas ini.

Kami pikir pesawat akan delay karena sesaat sebelum ke prayer room aku lihat belum ada aktifitas apapun di counter check in. Ternyata ketika aku shalat saat itu pula counter dibuka. karena penumpang tidak terlalu ramai maka proses nya berlangsung cepat.

Prayer Room

Prayer Room di Bandara Chek Lap Kok Hongkong

Jarak antara prayer room dengan gate keberangkatan lumayan jauh. Kalo jalan santai mungkin memakan waktu 10 menit. Saat keluar dari prayer room itulah aku melihat counter sudah ditutup. Sambil berlari aku dan Nola mengangkat boarding pass yang sudah kami dapatkan sejak di Bandara Soetta Jakarta. Petugas counter yang melihat kami bertanya “Kathmandu.. Kathmandu?” kami mengangguk sambil mengatur nafas.

Setelah ku jelaskan alasan keterlambatan akhirnya kami diizinkan masuk. Menuju ke dalam pesawat pun kami masih harus lari. Akibatnya Kami ngos ngosan. Kedatangan kami menjadi tontonan penumpang yang sudah berada di dalam. Lima menit kemudian pesawat pun lepas landas. Aku dan Nola saling bertatapan dan kemudian menghela nafas panjang. Syukurlah.

Selama perjalanan tidak ada istilah tidur. Padahal mata sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Aku pindah ke seat bagian tengah pesawat yang semuanya kosong. Aku berencana untuk mengambil posisi tidur “ternyaman”. Namun karena guncangannya masih terasa kuat, niat tersebut aku urungkan. Dalam bayanganku jika badan ini direbahkan trus pesawat berguncang pasti langsung turun dan ngak naik lagi. Menyeramkan. Akhirnya aku memilih untuk menikmati hiburan yang disediakan pesawat ini.

Sepertinya tidak hanya aku yang khawatir dengan guncangan ini. Sejumlah penumpang yang masih terjaga juga menunjukkan guratan kekhawatiran. Mereka lebih memilih diam atau mengurangi pembicaraan. Sementara penumpang lainnya ada yang tetap tidur. Lelap!.

Sementara itu awak kabin masih mengabarkan cuaca buruk ini kepada penumpang. Satu persatu pramugari datang menjumpai penumpang memastikan jika seat belt terpasang baik. Hampir setiap cuaca buruk, para pramugari langsung mengecek setiap penumpang. Memastikan tidak ada yang sedang berdiri atau menggunakan toilet.

Perjalanan dari Hongkong menuju Kathmandu menghabiskan waktu enam jam. Dari layar yang ada di depan, aku melihat jika pesawat ini melewati banyak negara. Jadi kesannya berputar putar. Mungkin memang seperti ini prosedurnya. Karena jika sedang dalam kondisi darurat pesawat dapat turun di daerah tertentu yang memiliki Bandara. Mungkin.

Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan menegangkan, akhirnya pesawat kami landing di Tribhuvan International Airport. Suasananya gelap. Bahkan hanya sekedar untuk mengambil gambar. Foto yang kuambil dengan kamera saku-ku hasilnya tidak ada yang bisa diandalkan.

Turun dari pesawat kami pun naik ke dalam bis kemudian diantar ke terminal kedatangan internasional. Bandara Internasional Tribhuvan adalah satu-satunya Bandara internasional di Nepal. Di Bandara ini terdapat dua terminal, yaitu terminal domestik dan internasional. Bandara ini terletak di 5,56 km timur kota Kathmandu di jantung Lembah Kathmandu. Bandara Internasional Tribhuvan berada di tengah pertemuan tiga kota kuno yaitu Kathmandu, Bhaktapur dan Patan.

Image

Suasana dalam Bus sesaat setelah turun dari pesawat

Sesampai di terminal kedatangan aku dan Nola mulai bingung. Apa yang harus kami lakukan. Aku melihat deretan meja imigrasi dengan petugas yang menggunakan pakaian seragam putih. Selain itu juga ada money charger serta sebuah studio foto yang sangat sederhana. Ya studio foto!  Studio ini berukuran 1,5x 2 meter. Didalamnya ada kamera saku dan printer. Pintunya cukup ditarik dengan sehelai kain.

Awalnya aku kurang ngeh kenapa studio foto bisa hadir di terminal kedatangan. Sampai akhirnya aku mengerti setelah mengurus visa. Agar bisa lolos dari pemeriksaan imigrasi kita harus mengisi formulir dengan foto yang tertempel diatasnya. Nah bagi penumpang yang tidak membawa foto maka studio itu adalah solusinya. Aku termasuk yang menggunakan jasa ini.

Image

Antrian menuju meja Imigrasi

Image

Pemeriksaan Dokumen oleh petugas Imigrasi

Masuk ke Nepal bisa dengan VOA alias Visa on Arrival. Jadi pengurusan visa tidak perlu ke Kedutaan. Cukup di terminal kedatangan saja. Indonesia adalah salah satu negara yang warganya dapat memanfaatkan fasilitas ini. Tapi ada beberapa negara yang warganya tidak diizinkan mengurus visa melalui cara ini. Seperti  Nigeria, Ghana, Zimbabwe, Swaziland, Kamerun, Somalia, Liberia, Etopia, Irak, Palestina and Afghanistan. Warga dari negara negara tersebut harus mengurus visa di kedutaan atau perwakilan yang ada di negara masing masing. Warga berkebangsaan India boleh masuk Nepal tanpa visa. Seperti pelancong Indonesia yang masuk ke Malaysia.

Pembayaran visa di terminal kedatangan dapat menggunakan beberapa mata uang seperti Euro, Swiss Franc, Pound Sterling, US Dollar, Australian Dollar, Canadian Dollar, Hong Kong Dollar, Singapore Dollar and Japanese Yen. Kartu kredit dan mata uang India serta Nepal tidak diterima, apalagi Rupiah. Rupiah adalah mata uang yang tidak dikenal di negeri ini. Makanya sebelum berangkat aku menukar Rupiahku ke US Dolar.

Image

5 Nepal Rupee

Image

20 Nepal Rupee

Lama waktu di Nepal mempengaruhi biaya visa. Jika hanya 15 hari cukup membayar USD 25, sebulan USD 40, sedangkan jika waktu yang dihabiskan mencapai 90 hari maka biaya yang dikeluarkan sebesar USD100.  Aku memilih yang USD 25 karena kegiatanku cuma berlangsung sepekan.

Image

Visa Nepal

Jujur saja urusan di Imigrasi Bandara Tribhuvan sangat mudah dan cepat. Cukup mengisi form dengan benar, lengkapi persyaratan pendukung , menyerahkan biaya untuk visa. Selesai! Cuma itu saja. Tidak ada pertanyaan berbelit atau petugas yang kejam dan menyeramkan. Mungkin kemudahan ini dilakukan karena Nepal telah mendeklarasikan diri jika 2011 adalah tahun kunjungan wisata. Makanya mereka membuat semua urusan menjadi simple.

Terbukanya Nepal bagi dunia internasional ternyata disambut hangat oleh industri penerbangan. Potensi wisata Nepal yang menggiurkan membuat maskapai penerbangan membuka rute ke Nepal. Kini lebih dari 30 penerbangan internasional sudah di buka. Nepal telah terhubung ke banyak Kota baik di Asia, Eropa, dan Timur Tengah. Sebut saja seperti Kuala Lumpur, Bangkok, Hongkong, Delhi, Muscat, Amsterdam, Amman, Seoul dan sejumlah kota lainnya.

Peta Penerbangan Internasional menuju Nepal. (taken from nepaltouroperator.com/)

Peta Penerbangan Internasional menuju Nepal. (taken from nepaltouroperator.com/)

Seiring semangat visit nepal 2011 Bandara yang dulu bernama Bandar Udara Gauchar ini pun terus direnovasi secara signifikan. Renovasi tersebut meliputi perluasan ruang keberangkatan dan kedatangan, penebalan aspal Bandara, dan peningkatan fasilitas. Bahkan sebuah landasan helikopter pun mulai dibangun pada Januari 2011 untuk memberikan efisiensi lepas landas dan pendaratan helikopter. Meski demikian Bandara ini masih dihadapkan dengan persoalan yang sangat penting, yaitu air bersih.  Ketika aku pulang, semua toilet yang ada di Bandara tidak menyediakan air!

Tapi masalah itu sepertinya hanya memberi pengaruh yang sedikit. Buktinya mereka yang berkunjung ke Nepal terus bertambah.

**

28 thoughts on “TERBANG KE TRIBHUVAN INTERNATIONAL AIRPORT

  1. Agak beda aturannya, sy kesana 2007 tarip turis VoA USD30 utk 60 hari, ga ada pilihan2 lain.
    Immigrasinya masih manual. Oya, jadi ingat, th 2007 jalur ke Nepal masih dikit banget, beli tiket Thai Air nunggu confirm seat 3 bulan!! dan masih pakai paper ticket rangkap2 , luntur merah2 model jadul.Skrg udah e-ticket? Terus dari Immigrasi bisa kelihatan bagasi kita dilempar lempar ke ruangan , belum ada conveyor…heheee…beda ya??

    • what 3 bulan?? trus itu tiket bisa batal dengan sendiri nya?? kenapa bisa lama betul? berarti nepal hebat ya. bayangin aj 30 penerbangan internasional… tapi pas aku datang kesan tua masih nampak kok mbak. alat2 jadul buangett

      • iyalah….deg2an tiap hari nunggu confirm tiket, dulu kyknya cuma 3 penerbangan yg ke kathmandu, makanya berebut lah turis sejagat. dulu kg ga ada terbang malam, krn medannya bahaya ..mungkin skrg alat2 navigasinya sdh baru. terbang dari Bangkok sih ga terlalu gajluk2, tp terbang domestiknya..wuiiiih masih pakai pswt propeller!! sport jantung.

      • dalam bayangan aku ini kalo malam bakal nabrak gunung ngak ya.. tuing tuing haha. pas jelang mau balek ke jakarta aku sempat nanya ke kawan2.. mau naek budha air ngak?? terbang disamping himalaya.. kata kawanku “makasih riel, aku mau pulang liat keluarga dulu” haha batal deh. tapi kata guide nya kalo pun naek budha air trus cuaca buruk sama aj.. ngak nampak apa apa..

        pernah ke himalaya mbak??

      • hahaa…iya itu , sy naik pesawat disamping himalaya, dari kathmandu ke pokhara, serem banget puncak2nya lancip2. udah cukup sekali itu aja. Kalau ke himalaya pernah, tp cuma sampai basecamp yg 5200m, Tibet overland dari Kathmandu sampai Lhasa 8 hari, napas megap2 terus.

      • wuuihhh mantap bener… asiikk banget ya bisa keliling dunia. kalo ikut pingin abisin kawasan asean dulu. laos, myanmar, kamboja ama philipina. kalo mbak asean ude dilahap semua ya hehe

  2. sekali ada naik pesawat baling-baling. ntu cerita yang balik dari pekanbaru. lima detik sekali ada guncangan sebesar 5 SR dan sarapan yang dikasih pun nggak dinikmati di pesawat. hanya 30 menit aja soalnya pekanbaru-medan kagak jauh. pas turun ke bawah liat cuaca di medan cerah, tapi ada satu tumpuk awan tebal sebungkus besar. lalu bergumam, owh itu ya yang bikin kami berdebar-debar di atas tadi. hehehe…

  3. lebaran kemarin baru ke laos, rencananya ke myanmar juga, ternyata ga ada pesawat langsung dr laos ke myanmar…kalo jalan darat 18 jam muter lewat chiang mai,batal deh.. cuti habis dijalan.

  4. Pingback: Arielogis | MENGENAL CHEK LAP KOK INTERNATIONAL AIRPORT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s