BERKUNJUNG KE BOUDHANATH, STUPA TERBESAR DI ASIA SELATAN

Dalam rangkaian perjalananku ke Nepal pada April 2012 lalu, aku berkesempatan mengunjungi Stupa Boudhanath. Ini adalah Stupa terbesar di Asia Selatan dan juga tercatat sebagai salah satu Stupa terbesar di dunia. Stupa ini terletak di pinggiran kota atau tujuh kilometer dari arah selatan  Kathmandu ibukota Nepal. Lokasi ini menjadi pusat dari Buddhisme Tibet di Nepal dan para pengungsi asal Tibet yang telah menetap di wilayah ini sejak beberapa dekade terakhir.

Image

Stupa Boudhanath

Menuju kemari aku menggunakan taksi bersama teman temanku. Kami mencarter dua taksi. Bersamaku ada Nola teman asal Padang, Kunga dari Bhutan dan Farah dari Malaysia. Sementara di taksi yang lain teman temanku, yang berasal dari Srilangka.

Mereka yang berasal Bhutan dan Srilangka memang datang mengunjungi Boudhanath untuk sembahyang. Sedangkan aku dan teman lainnya datang hanya sekedar melihat situs bersejarah berperadaban tinggi dan tentu saja cuci mata plus shopping.

Dari Hotelku menuju ke Boudhanath tidak terlalu jauh tetapi juga tidak terlalu dekat. Membutuhkan waktu kira kira  20 menit. Tapi durasi perjalanan kami bertambah dan habis terbuang di jalan karena macet akibat lalu lintas yang buruk serta antrian kenderaan yang mengisi bahan bakar. Saat kunjunganku, Kathmandu memang tengah menghadapi krisis BBM. Jika malam hari hampir seluruh wilayah Kathmandu gelap gulita. Listrik padam. Bahan bakar negara ini dipasok dari India.

Setelah tiba di depan pintu gerbang kami pun masuk. Dari gerbang ini Stupa Boudhananth sudah terlihat. Memang jarak antara pintu gerbang dengan stupa tidak terlalu jauh. Apalagi bangunan ini memang besar sehingga tampak berdiri gagah ditengah kerumunan massa. Disana aku lihat banyak peziarah. Mengelilingi stupa sambil berdoa. Stupa yang diatasnya terdapat mata yang menghadap keseluruh penjuru arah angin seakan menyambut hangat kedatangan kami.

Di sebelah kanan dari pintu gerbang terdapat sebuah counter yang menjual tiket masuk. Counter ini jauh dari kata mewah, kecil dengan warna yang mulai memudar. Di dekat counter tersebut juga bersiaga pihak keamanan yang berpakaian lengkap. Pengunjung yang masuk ke kawasan ini harus membeli tiket.

Harga tiket dibedakan antara pengunjung asal SAARC dengan turis asing. Perbedaan harga tiket untuk kedua jenis kategori ini lumayan besar. Untuk SAARC tiket dihargai Rs.40 atau sekitar 4500 Rupiah sedangkan untuk turis asing Rs.150 atau 17.000 Rupiah.

Tapi kami sangat beruntung. Kunga Temanku asal Bhutan menjumpai petugas counter. Dengan bahasa Nepal yang fasih dia mengatakan bahwa kami adalah turis. Kemudian dia berkicau panjang lebar tentang pariwisata. Sedangkan penjual karcis hanya terdiam. Sesaat kemudian kunga mengajak kami masuk. Gratis!. Petugas tiket hingga keamanan hanya terdiam. Kami berdecak kagum karena dapat berhemat hehe.

Memang hampir disemua tempat wisata di Nepal membedakan harga tiket masuk bagi turis asing dan turis asal SAARC. Tiket bagi turis asal SAARC biasanya jauh lebih lebih murah. SAARC adalah kependekan dari The South Asian Association for Regional Cooperation. Ini adalah organisasi yang didalamnya bergabung Negara Negara asal Asia Selatan seperti Bangladesh, Bhutan,  India, Pakistan, Maladewa, Nepal dan Srilangka. SAARC berdiri sejak 8 Desember 1985 ketika Negara Negara tersebut bersepakat untuk meningkatkan kerjasama bidang sosial dan ekonomi serta pengembangan budaya antar negara. Mungkin kedudukan dan fungsinya hampir sama dengan ASEAN di Asia Tenggara.

Memasuki komplek Stupa aku langsung disuguhi nuansa penuh spiritualitas. Bau dupa yang semerbak ditambah ritual para pendoa menambah kuat atmosphere bangunan yang didirikan pada abad ke 14 ini. Disini aku bertemu dengan ragam macam manusia. Mereka datang dari berbagai negara. Aku juga melihat bule yang menggunakan pakaian biksu. Sepertinya mereka datang dari jauh untuk menemukan ketenangan hidup.

Memang kehidupan dengan rutinitas keduniaan terkadang menjemukan. Tuhan sering kita simpan dan hanya kita keluarkan saat diperlukan. Ketika miskin melanda, sakit menerpa atau ketika masalah datang silih berganti meski tak diundang. Padahal Tuhan itu dekat bahkan lebih dekat dari pada urat nadi kita. Menghadirkan Tuhan dalam setiap hela nafas jelas membuat hidup lebih terarah dan menenangkan.

Banyak rutinitas yang dilakukan para peziarah di Boudhanath. Ketika aku datang, di bagian atas stupa sedang berlangsung doa bersama. Orang orang berkumpul diatas sana. Memanjatkan doa dengan suara yang membahana. Sebenarnya aku ingin melihat itu dari jarak yang lebih dekat. Tapi khawatir karena prosesi ritual dalam semua agama itu sakral. Kita memerlukan beberapa pengetahuan dasar. Sehingga tau antara mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika berada dekat dengan seseorang yang sedang beribadah.

Selain mereka yang sibuk berdoa diatas stupa, ada juga para peziarah yang mengelilingi stupa sambil menyentuh lonceng yang terdapat pada bangunan ini. Setiap kali mereka sentuh lonceng itu setiap kali itupula doa dihantarkan.

Image

Karena sifatnya dikelilingi, maka bentuk areal Boudhanath itu lingkaran. Stupa berada di tengah sementara jalan yang dilalui para peziarah berada diantara Stupa dan bangunan yang ada disekitarnya. Bangunan itu ada toko seperti Toko Sovenir, Restoran Hingga Hotel. Meski jumlah mereka yang khusyuk berdoa sangat banyak, namun jumlah pelancong yang berbelanja juga tidak kalah banyaknya.

Disana aku dan teman teman membeli beberapa sovenir. Seperti kain, gantungan kunci, hingga hiasan kulkas. Dan layaknya berbelanja di tempat wisata harganya pun lumayan mahal jika dibandingkan dengan pasar diluar sana. Tapi karena tidak punya kesempatan untuk menjejali pasar tradisionalnya akhirnya kami memutuskan berbelanja di sini saja.

Ada beberapa hal yang patut diperhatikan ketika kita mengunjungi Boudhanath. Ini penting karena stupa ini sangat sakral. Yang pertama  adalah menggunakan pakaian yang menunjukkan rasa hormat kepada tempat yang suci. Mungkin sederhananya adalah gunakan pakaian yang sopan. Kemudian melepaskan sandal atau sepatu sebelum memasuki bangunan Stupa bahkan toko toko yang berjejer dikanan kiri stupa. Jangan memanjat Stupa atau bangunan lain yang dianggap berbahaya. Dan tidak kalah penting adalah menghadirkan rasa aman dan nyaman selama berada di dalam komplek stupa. Termasuk dilarang mengambil foto tanpa izin.

Suasana yang hadir dalam komplek Boudhanath ini memang sangat menenangkan. Bunyi lonceng dan suara mereka yang berdoa seakan mengenyahkan segala hiruk pikuk dunia. Tapi sayang aktifitas di Boudhanath hanya sampai sore hari. Menjelang malam Stupa ditutup. Peziarah dilarang masuk kedalam maupun ke atas stupa. Tapi tetap dizinkan berjalan dan menikmati areal sekitar.

Boudhanant di malam hari (taken from panoramio.com)

Boudhanant di malam hari (taken from panoramio.com)

Meskipun begitu ketika semua peziarah turun kami malah naik. Kami diusir oleh petugas keamanan. Kunga memaksa masuk. Dia melobi petugas keamanan. Entah kalimat apa lagi yang disampaikannya. Ajaib kami dizinkan masuk tapi hanya beberapa menit. Izin tersebut tidak kami sia siakan. Kunga dan teman asal Srilangka memilih berdoa. Sedangkan aku, Nola dan Farah memilih untuk foto foto. Tapi sayang karena kurang pencahayaan foto nya gelap dan buram.

Setelah puas menikmati keindahan Boudhanath kami pun pulang. Menggunakan taksi kami menerobos malam yang bertambah gelap karena listrik di Kota Kathmandu masih juga padam.

**

Baca juga cerita Kathmandu Kota Kuil yang ramah.

11 thoughts on “BERKUNJUNG KE BOUDHANATH, STUPA TERBESAR DI ASIA SELATAN

    • bakhtapur juga ada, cuma belum ditulis hehe, padahal dah setahun pergi kesana hehe. kalo pokhara sama annapura ngak. soalnya aq kesana ada kegiatan workshop. jd ngikut kegiatan panitia nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s