DIBALIK LAYAR PROFESI JURNALIS

Gedung TVRI Aceh. foto ini diambil beberapa tahun lalu.

Gedung TVRI Aceh. foto ini diambil beberapa tahun lalu.

Sejak tahun 2005 Aku bergabung di TVRI Aceh. Awalnya Aku hanya bertugas menjadi presenter program Aceh Dalam Berita yang disiarkan setiap hari pukul setengah lima sore. Program ini berlangsung selama setengah jam. Baru pada tahun 2008 Aku bergabung di News Department TVRI Aceh sebagai Jurnalis. Itupun setelah Aku menyelesaikan masa studi S1 ku di Fakultas Pertanian Unsyiah. Hehe ngak nyambung ya. Soalnya dulu belum ada FISIPOL, trus orientasi abis SMA kan “asal bisa kuliah” . Jadi begitulah ..

Sebagai jurnalis tugasku adalah meliput berita mulai dari hard news hingga ceremony yang terkadang kurang penting. Maklum TVRI Aceh belum memisahkan content Straight News dengan Advetorial News. Sehingga kedua jenis berita itu masih ditayangkan dalam program yang sama yaitu Aceh Dalam Berita atau kini berubah nama menjadi Warta Aceh.

Ketika mendapat tugas liputan Aku kerap kali langsung menuju TKP karena Jarak rumahku dengan kantor lumayan jauh. Dengan menggunakan kenderaan roda dua bisa memakan waktu hingga 20 menit. Jadi jika lokasi syutingnya di kantor Gubernur, DPR Aceh atau lokasi lain yang berada dalam wilayah Kota  aku langsung aj ke lokasi dan crew yang lain akan menyusul. Nah baru setelah liputannya selesai Aku merapat ke kantor di Mata Ie Aceh Besar.

Di kantor biasanya aktifitas ku bergelut dengan komputer dan tekhnologi lainnya. Berita yang telah siap di print diserahkan kepada EIC atau Editor In Chief. Dia yang bertugas mengedit berita hingga memutuskan ini berita boleh naik atau tidak. Setelah diizinkan untuk disiarkan baru kemudian berita di dubbing hingga akhirnya disiarkan.

Salah satu proses pengeditan berita

Salah satu proses pengeditan berita

Hingga kini Aku mendapatkan banyak pengalaman seru. Menjadi jurnalis itu menyenangkan karena kita dapat mengetahui sebuah informasi lebih awal daripada masyarakat lainnya. Menjadi Jurnalis juga berkesempatan menjumpai orang orang penting yang mungkin biasanya sulit diakses. Dan dengan menjadi jurnalis pula kita dapat mengakses tempat tempat yang “eksklusif”.

Ada  beberapa pengalaman yang mengasyikkan yang kudapatkan selama lima tahun menjadi Jurnalis. Salah satunya adalah kepuasan batin ketika berita yang kita liput memberi dampak dan respon dari masyarakat.

Suatu hari ruang redaksi TVRI Aceh didatangi dua orang ibu ibu. Satu berperawakan putih tinggi, matanya sipit dan berkerudung merah jambu. Sedangkan satunya lagi berperawakan kecil berkulit itam dan memakai baju serta jilbab dengan warna senada, hitam!.

Pagi itu hanya ada Aku diruang redaksi. Setelah kami berkenalan mereka berkisah. Jika rumah mereka di kawasan Dusun Lampoh Bungong Lueng Bata Banda Aceh sudah terendam air sejak beberapa pekan. Mereka hidup dalam genangan. Ibu yang memakai baju hitam itu bernama Linda (kalo tidak salah ingat). Suaminya sakit sakitan, usaha kue nya hancur. Sedangkan hasil dari memulung juga tidak bisa digunakan atau dijual karena sudah basah terendam air. Mereka datang agar TVRI mau meliput dan mengabarkan kondisi mereka ke publik.

kawasan Dusun Lampoh Bungong Lueng Bata Banda Aceh yang terendam air.

kawasan Dusun Lampoh Bungong Lueng Bata Banda Aceh yang terendam air.

Keesokan harinya Aku bersama kameraman langsung menuju TKP. Memprihatinkan itu kata pertama yang terucap. Tiga rumah terendam air yang warna nya mulai hijau. Tidak ada drainase. Parahnya lagi air tidak hanya merendam rumah warga tapi juga komplek pemakaman yang berada satu areal dengan rumah penduduk. Ibu Linda mengaku jika mereka pernah mengungsi ketika setengah dari bangunan rumah mereka terendam air karena hujan lebat.

Berita tentang kondisi mereka akhirnya mengudara. Alhamdulillah berkat pemberitaan tersebut, belas kasih mulai berdatangan. Bahkan mereka mendapatkan bantuan dari badan pengelola harta agama di Aceh hingga dari teman teman di facebookku yang bersimpati.

Liputan haji 2011

Liputan haji 2011

Pengalaman lain yang tidak kalah serunya adalah ketika Aku meliput keberangkatan jamaah haji asal Aceh ke tanah suci. Kejadian ini terjadi pada tahun 2011. Aku berkesempatan melihat secara dekat pemberangkatan haji jamaah asal Aceh menggunakan pesawat boeing 747 berkapasitas 450 orang. Ini kali pertama pesawat berbadan lebar itu landing dan take off dari Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda. Serunya lagi para jurnalis yang ikut hadir dalam acara tersebut diizinkan naik ke dalam pesawat yang disewa dari spanyol itu.

Selain cerita suka pasti ada cerita duka. Layaknya hidup yang harus senantiasa seimbang. Ada gelap ada terang ada suka pasti ada duka. Begitu juga dengan profesiku sebagai seorang jurnalis. Aku pernah meliput kedatangan orang hebat di negeri ini. Hmm kasih tau ngak yaaa. Waktu itu wakil presiden datang berkunjung ke Aceh ingin melihat suasana Aceh pasca gempa. Nah biasanya kalau RI 1 atau RI 2 datang pasti pengawalan dan pengamanan juga ketat.

Waktu itu Aku meliput acara RI 2 di Anjong Mon Mata Banda Aceh. Lokasinya masih berada dalam satu komplek Meuligoe (pendopo) Gubernur Aceh. Setelah melewati pemeriksaan ketat akhirnya Aku bisa masuk kedalam. Tidak banyak jurnalis yang berhasil masuk dengan berbagai alasan. Termasuk kameramenku, alasannya karena Pak Wapres lagi berpidato. Aku yang berada di dalam berencana keluar untuk menjemputnya. Eh pas sudah diluar kami dilarang masuk. Semua alasan ditolak! Tapi setelah melobi sana sini akhirnya kami diizinkan masuk. Tapi muka pengawal nya masih aj petak.

Tapi cerita menjengkelkan seperti ini jumlahnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan kegembiraanku menjadi Jurnalis. Bahkan kalau boleh jujur ID card Jurnalis yang aku pakai terkadang membuat beberapa urusan menjadi lebih mudah hehhe. Tetapi bukan berarti jadi petantang petenteng kesana kemari.

Peserta Workshop dari berbagai Negara, Kathmandu Nepal

Peserta Workshop dari berbagai Negara, Kathmandu Nepal

Nah yang ngak kalah menarik dari profesiku ini adalah bisa jalan jalan gratis. Seperti pengalamanku mengikuti workshop yang digelar di Kathmandu Nepal pada april 2012 lalu. Tapi dibandingkan dengan temenku di TVRI Pusat, pengalaman ke luar negeri ku masih kecil. Mereka yang bertugas di Istana lebih sering ke Luar negeri meliput kunjungan kerja Presiden.

Itu dia beberapa kisah yang tersaji di balik layar profesiku sebagai Jurnalis. Masih ada lho satu profesi lagi yang cerita nya juga mengasyikkan. Bayangkan sebagai presenter aku tetap harus tersenyum dilayar kaca padahal sedang gempa! Tunggu postingan berikutnya ya🙂

**

Banda Aceh, 28092013 sehari menjelang penutupan PKA ke 6

9 thoughts on “DIBALIK LAYAR PROFESI JURNALIS

  1. Kok bisa nyasar sih bang dari pertanian kok ke jurnalis? Ceritain lebih detail dong.. Hehehe..
    By the way, ralat dikit dong “Editor In Chef” harusnya “Editor in Chief”. Beda 1 huruf tapi beda arti banyak lho.

    Makasih udah berbagi. Ceritanya seru. Salah satu profesi yg aku kagumi tuh jurnalis😀

    • hhehe kalo sekarang kayaknya makin mudah, masuk kampus fisip ambiljalur komunikasi. atau gabung ke radio. banyak temenku yang juga anak radio endingnya malah ke tv .

      salam kenal ya, terimakasih sudah berkunjung

  2. Wahh….pingin komen, tapi kok malah pingin banyak nanya ya…penasaran saya dengan posting ini, dan begitu memuatku lebih penasaran lagi. Share doeng, bagaimana pandangan Tgk tentang relasi media dengan ideology sebuah perusahaan media. Khususnya berkenaan dengan media2 di indonesia, framing pemberitaan dipengaruhi oleh idelogy. Aku penasaran, dan tertarik dengan macam2 ideology pemberitaan di Indoensia, namun sayang tadak teman bertanya hal ini. Bahagia sekali jika Tgk mo berbagi….macam ragamnya ideology media
    di negeri kita.

  3. Kadang saya salut melihat jurnalis itu, kuat walaupun kerjanya dipreassure. lari-lari. pasti merepotkan. Tapi ventilasinya itu saya suka. berbagi pengetahuan secara gak langsung kpada dunia.

    pengennya kmana-mana bawa kamera saku gitu, diedit jadi netizen gitu kaya mas ariel.tapi versi kecil-kecilan. hehehe
    saya jadi banyak tahu nih. trims mas ariel🙂

  4. Pingback: KILAS BALIK (part dua) | ariel kahhari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s