PANGGUNG BUAT ENENG

Muka Eneng agak pucat malam ini. Keringat dingin keluar dari kulit wajahnya yang didempul bedak tebal. MC yang dari tadi membakar massa makin tambah semangat. Sementara Eneng bertambah pucat. Padahal menyanyi sudah menjadi aktifitas nya sehari hari. Eneng mencari makan dari satu panggung ke panggung yang lain. Bahkan di kampungnya dia sangat terbiasa bernyanyi di depan banyak pria hingga larut malam. Tapi kali ini Neng bernyanyi di daerah yang berbeda.

Persiapan yang dilakukan Neng juga tidak seperti biasanya. Jika di kampung Eneng cukup menyiapkan diri dua atau tiga jam sebelum manggung. Tapi kalo disini persiapan sudah dilakukan sejak siang hari. Sepanjang hari Eneng sibuk memilih baju yang dibawa nya dari kampung. Tidak ada yang cocok. Yang satu terlalu ketat. Satunya lagi terlalu terbuka. “Hmmm bisa bisa aku ditimpuk penonton”.

Akhirnya dia menemukan sebuah baju yang pernah dia pakai saat nampil disebuah Pesantren. Baju itu dipakai waktu membawa marawis bersama beberapa temannya saat memeriahkan milad Pesantren itu. Warnanya kuning dengan payet disana sini plus kerudung dengan warna yang sama. Eneng kira kostum ini layak dipakai untuk konser malam nanti.

Di atas panggung MC mulai disoraki penonton. “Mana penyanyinya” teriak penonton yang kepanasan. Penonton yang tumpah ruah di halaman sebuah anjungan mulai berdesak desakan. Sekali senggol semuanya bisa runyam.

Eneng yang berada dibelakang panggung mulai khawatir. Dia takut dicibir atau dilempari sesuatu. “Bisa bisa ngak dapat pulang kampung.”  Ketemu Emak yang sebenarnya melarang dia manggung kemari. Pikiran Neng terus berimajinasi.

MC yang mulai terdesak akhirnya memanggil Eneng.

“Neng Sulisnawati..” gemuruh tepuk tangan membahana. Penonton yang tadi protes juga bersorak sorai. Di belakang panggung Neng berdoa supaya semua berjalan baik baik saja. Setelah memastikan jilbab dan bajunya rapi Neng keluar dan naik keatas panggung.

Suit suit.. penonton merayu. Neng terkejut. Dia tidak mengira akan disambut dengan begitu meriah. Beberapa penonton mulai mengulurkan tangan untuk sekedar berjabat. Tapi Neng dengan sopan menolak. Dalam hati, Neng sudah bertekad untuk menjaga sikap selama manggung disini.

“Assalamu’alaikum penonton semua..” sapa Neng.

“Wa’alaikumsalam…” Penonton menjawab salam dengan kompak dan membahana. Sok akrab.

“Apa kabar?” Neng coba mencairkan suasana. Meski dia sendiri masih ketakutan.

“Baik..” jawab penonton yang didominasi kaum pria ini.

“Bapak Bapak.. Ibu Ibu.. Eneng mohon izin ya nyanyi disini. Maklum Eneng orang luar”

“Ngak apa apa” sahut seorang Bapak disamping panggung disambut gelak tawa penonton.

Neng akhirnya membuka acara dengan sebuah lagu Bang Haji, begadang. Semua penonton ikut bernyanyi. Semua bergoyang. Neng pun mencoba menikmati aksi panggung nya.

Lagu demi lagu sudah dinyanyikan. Neng minta istirahat sebentar, haus katanya. Permintaaan itu disambut nada kecewa para penonton. Neng kembali ke belakang panggung. Sementara acara kembali dikuasai MC.

Tiba tiba MC datang menjumpai Neng yang sedang duduk sambil membenarkan posisi jilbab dan make up yang mulai luntur.

“Neng, penonton minta kamu joget. Trus mereka juga minta kalo bisa ada penonton yang nemenin kamu diatas panggung.”

“Apa?” Neng kaget. “Tapi kalo disini itu kan ngak boleh Pak”

“Ngak apa apa, ini udah larut. Razia udah selesai. “

“Tapi Neng takut Pak. Entar disuruh turun dari panggung trus ditangkap. Neng ngak mau ah” Eneng berusaha menolak.

Setelah didesak dan dijanjikan uang jajan tambahan akhirnya Neng bersedia. Tapi bonusnya harus dimuka.

Setelah mendempul wajahnya yang berjerawat, Neng naik lagi keatas panggung. Neng kembali basa basi. Tiba tiba seorang Bapak bertubuh tambum dan berkumis tebal berteriak dari arah tengah kerumunan penonton.

“Nengggg, Coba goyang sekali”.

Tidak hanya itu penonton yang berada di dekat panggung mulai merengsek mendadak naik keatas panggung. Neng takut. Cuma karena sudah menerima bonus Neng coba menenangkan diri.

Akhirnya Neng berhasil menguasai diri, panggung dan penonton. Neng yang awalnya malu malu mulai beringas. Aksi yang biasa ditampilkan di Kampung halamannya dia tunjukkan di depan penonton yang sudah mulai “kerasukan”.

Panggung mulai dipenuhi penonton. Mereka yang tidak kebagian tempat memilih berjoget dibawah panggung. Gaya mereka semua sama. Tangan diatas dengan badan yang diliuk liukkan sesuai irama.

“Yang disini masih kuatt kannn?? Masihh mau digoyaangg??  Boleh goyang asal tetap cinta damai ya” teriak Eneng dengan rambut nya yang bergelombang. Entah sejak kapan kerudung nya lepas. Tapi semua tidak menjadi soal. Penonton tetap asik bergoyang meski sudah pukul 12 malam.

***

(Refleksi PKA ke 6)…

Rumah Banda Aceh, 23092013  menanti hentakan dari taman Sulthanah Safiatuddin.

12 thoughts on “PANGGUNG BUAT ENENG

  1. Salam Ariel . . . Apa ini diadaptasi drpd kisah benar? Masih boleh terjadi di mana nih . . . serambi Mekah? Mudah2an ini cuma lahir dari imaginasi Ariel utk “highlight” kerusakan yg kadang kala boleh timbul di sana sini dalam komuniti yg warak sekali pun. Atuk cuma masih ‘kegerunan’ membayangkan kedahsyatan drpd musibah yg atuk lihat sendiri kesannya di sana baru2 ini. Anyway good presentation. Interesting reading. Selamat Ariel.

    • ini fiksi atuk, tapi secara umum ini lah yang terjadi. beberapa hari lalu presiden Indonesia membuka Pekan Kebudayaan Aceh. tapi sayang kalau sudah masuk malam hari acara berubah jadi dangdut. memang tidak sedasyat di wilayah lain di indonesia. tapi tetap saja mengganggu. nah masalahn ini sudah muncul dipermukaan. sekarang sedang dibahas. semoga ada perubahan.

    • semoga tidak ada yang separah ini, tapi dangdut emang digelar hampir di tiap anjungan. kalo ditanya kenapa mutarin dangdut, emang ini budaya Aceh? jawabnya mereka santai aj ” kan cuma hiburan…” malee teuh

  2. Mantap ril tulisannya. Tetapi menurut ane bukan genre seni musik (dangdut) nya yang salah, melainkan penyajian di dalam persembahannya yang tidak mendidik. Bang oma bawa dangdut oke banget, minussnya cuma ada penyanyi latar perempuan yang goyang-goyang. However, ane yakin kalau dangdut dikemas dengan baik dan mendidik, bisa menjadi salah satu alternatif hiburan yang sehat.

    Kalau melihat dari segi kebudayaan Aceh, nah ini…yang gak nyabung, peu pasai na dangdut lam PKA…poin yang ini mungkin ane lebih setuju agar dangdut ditiadakan.

    • sebenarnya ini sindiran buat kita juga orang orang Aceh. orang diluar sana respek betul sama kita. eneng menolak berjabat tangan adalah bentuk konkrit penghormatan dia terhadap “keislaman” yang dipahami banyak orang. cuma ya itu oknum disini yang kadang gataiii hahhah, eneng pun gadeuh ija sawak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s