PEURATAN PKA (PKA DAN SEGALA KEUNIKANNYA) part 1

Pekan Kebudayaan Aceh atau PKA kembali digelar tahun ini. Terbayang kegembiraan dan keceriaan akan disuguhkan sepanjang perhelatan ini dilangsungkan. Namun apa mau dikata, satu persatu cerita muncul ke permukaan. Bukannya memberikan warna warni , PKA malah mengumbar guratan kekecewaan.

Image

Logo PKA ke enam (seputaraceh.com)

Pada tanggal 20 September 2013 Presiden SBY secara resmi membuka PKA. Pekan Kebudayaan Aceh yang kali ini memasuki tahun ke enam. Perhelatan pesta rakyat yang menampilkan khazanah budaya dari 23 kabupaten kota di Aceh ini digelar setiap empat tahun sekali. Pada tahun 2013  acara digelar selama sepekan lebih.

Biasanya penyelanggaraan PKA menyedot perhatian besar. Tidak hanya warga yang tinggal di Banda Aceh melainkan seluruh masyarakat di bumi tanah rencong. Bahkan tidak jarang masyarakat dari luar Banda Aceh  datang bergerombolan menggunakan bus besar. Begitu jelas semangat yang mereka tunjukkan. Menikmati kegembiraan yang dibalut dalam lembaran kejayaan Aceh masa lampau.

Sepatutnya PKA menghadirkan nuasansa keceriaan. Karena banyak agenda hiburan dan perhelatan kebudayaan yang di tampilkan. Tapi kenyataan nya PKA kali ini malah memberikan guratan kekecewaan. Ada beberapa hal yang sempat ku catat. Keunikan ini kunamakan peuratan. Sebuah kata dalam bahasa Aceh yang artinya hal yang tidak masuk akal ( kurang lebih maknanya demikian).

Apa saja peuratan yang tampak selama PKA ke enam berlangsung. Ini dia…

1.      Pengamanan Presiden  

Sejak beberapa hari sebelum presiden tiba di Banda Aceh, aparat keamanan disebar. Mulai yang berseragam lengkap atau aparat berpakaian preman. Suasana Banda Aceh mirip ketika masih dilanda konflik. Panser dan Baracuda dimana mana. Jalan banyak yang ditutup dan dialihkan. Sweeping semakin rutin digelar. Dari surat kabar aku tau jika sebanyak 2500 personil kepolisian dan TNI dikerahkan. Masyarakat banyak yang mengeluh.

Tidak hanya masyarakat biasa yang menerima dampak dari kedatangan Presiden. Pejabat Aceh pun juga mendapatkan hal serupa. Ketika pembukaan PKA dilangsungkan, seluruh pejabat termasuk wakil Gubernur Aceh dan Wali Nanggroe tidak diperkenankan membawa rencong. Padahal dalam pakaian adat Aceh, rencong adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan. Peristiwa ini kembali mengundang reaksi masyarakat. Paspampres dianggap tidak memahami budaya Aceh. Dan lagi lagi pengamanan yang mereka tunjukkan dianggap terlalu berlebihan alias lebay.

Peuratan lain yang tampak dalam pengamanan Presiden adalah ketika Pak SBY menyempatkan diri melaksanakan Shalat Jumat di Mesjid Raya Baiturrahman. Jamaah yang hendak masuk kedalam Mesjid harus melewati mesin detektor. Antrian mengular. Seorang teman berceloteh di akun facebooknya. “hanya di Aceh dan Palestina , mereka yang kemesjid harus diperiksa.”

Bersambung ke  PEURASAN PKA (PKA DAN SEGALA KEUNIKANNYA) part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s