Shumaila

Shumaila Sheiza Kahhari

Shumaila Sheiza Kahhari

26 juni 2012 di QMC klinik Banda Aceh. Suara tangis itu pecah dari ruang operasi memecah keheningan malam. Kami yang sedari tadi menunggu saling berpandangan. Diluar ruang operasi ada aku, ferhat adikku, kak voni dan juga ibuku. Sementara disebelahnya ada ayah dan ibu mertuaku. Selama hampir  satu jam kami berbincang menunggu putriku lahir.Suster yang datang dari kamar operasi memanggilku.

“selamat , putrinya sudah lahir”

Perasaanku campur aduk. Selama sembilan bulan aku menanti kelahiran putriku. Tentu dibandingkan aku, istriku lebih dahsyat dan pengorbanan nya luar biasa. Di saat usia kehamilannya memasuki delapan bulan dia masih berjuang menyelesaikan study dokternya. Bahkan dia harus naik turun tangga mengurusi satu persatu berkas yudisium.

“ini bayinya, kulitnya bersih. Sekaligus di qamatkan ya pak” kata suster sambil menyerahkan bayi mungilku.

Ya Allah perasaanku semakin campur aduk. Melihat bayi kecil. Putih bersih tanpa dosa. Aku mengiqamatkan bayiku dan setelah itu mengambil beberapa gambar dan video. Sementara itu istriku masih didalam ruang operasi. Kata suster sedang dijahit bekas operasinya.

Setelah semua proses operasi selesai. Istriku kembali diangkut ke kamarnya. Diangkut karena memang istriku ditandu menuju lantai dua. Jadi ingat jenderal sudirman atau cut nyak dien.

Satu persatu keluarga ku datang dan melihat bayi mungilku. Dia punya suara yang besar dan melengking.

“sedih kali kok nangisnya” kata ibuku

**

Menjelang seminggu pasca kelahiran putriku , aku masih sibuk mencari nama yang bagus untuknya. Orang orang dekatku mengingatkan agar memilih nama anak harus yang mengandung doa. Tapi menurutku nama tidak hanya cukup berisi doa tapi juga enak didengar.

Sebenarnya dari jauh jauh hari aku sudah mencari nama yang baik. Aku sengaja membuat daftar nama nama itu dalam sebuah buku khusus. Aku kerap mendiskusikannya dengan istriku.

Setelah berdiskusi dengan keluarga aku sudah memutuskan untuk meberinya sebuah nama. Nama itu menjadi penting karena aku akan menggelar aqiqah buat putri kecilku. Kata yang jualan kambing, nama anak harus sudah pas. jangan berubah ketika sudah di aqiqah.

Pada sembilan juli 2012 aku menggelar aqiqah. Hari itu juga bertepatan dengan setahun usia pernikahanku. Seperti yang kuduga banyak yang akan bertanya nama anakku. Tidak hanya nama, pertanyaan berikutnya adalah “artinya apa?”.

Aku beri dia sebuah nama, Shumaila Sheiza Kahhari. Sebuah nama muslim dari daerah asia selatan.  Nama itu penuh doa karena berarti “Perempuan cantik yang taat kepada Tuhannya”. Sebuah nama pengharapan agar putriku tumbuh menjadi anak yang memiliki rupa yang cantik, hati yang bersih serta taat kepada Allah SWT.

13092013, Pusdiklat TVRI (Convergence Journalism)

2 thoughts on “Shumaila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s