Ayah kangen neuk…

Image

Shumaila

Pukul lima sore. Aku baru saja tiba di wisma tempat kami menginap. Di wisma santika kawasan Pejompongan Jakarta. Badan terasa begitu letih setelah mengikuti workshop yang digelar PusDiklat TVRI. Di dalam kelas kami duduk dan berdiskusi sejak pagi hingga sore hari. Kegiatan dengan agenda yang begitu padat.

Ketika hendak menuju kamar, sebuah sms masuk .

“kok ngak diangkat HP nya, padahal tadi Shumaila lho yang nelp”

Istriku menelefon. Aku baru sadar jika tiga panggilan tidak terjawab. Cepat cepat ku telefon balik. Sudah beberapa hari aku berpisah dengan Shumaila, putri kecilku.

“Asssalamulaikum Shumaila…..” sapaku..

Suasana hening…

Sayup sayup kudengar istriku menuntun anakku untuk menjawab salamku. Anakku sebenarnya baru berusia 14 bulan. Dia sedang lincah lincahnya. Bahkan bobotnya turun karena sering jalan-jalan. Apalagi kini dia kerap menolak untuk makan.

“Shumaila….., peu haba neuk” tanya ku lagi.

Mendadak suara tangis pecah diujung telefon. Shumaila menangis. Keras sekali. Bahkan aku belum pernah mendengar ia menangis sekeras itu.

“cup .. cup.. cup…. pakeun neuk. Pakeun moe?” tanyaku

“ Shumaila ngak mau Ayah, dia merajuk” jawab istriku

Sejak beberapa bulan terakhir kami menambah kata “merajuk” dalam kamus kehidupan baru kami. Ya Shumaila yang baru berusia setahun itu sudah bisa merajuk. Caranya pun sangat elegan.  Kalau sedang merajuk, dia hanya peduli pada dirinya. Bahkan ketika diajak bercanda pun dia sama sekali tidak tertarik. Bahkan memalingkan wajah seakan sedang tidak terjadi apapun. Aku pernah dibuat shock dengan cara merajuknya Shumaila.

“Ayah coba nyanyi buat Shumaila” pinta istriku

“lagu apa??” tanyaku serius

“terserah, lagu yang sering Ayah nyanyiin “

Aku memilih bershalawat, karena sejak dalam kandungan, puji pujian kepada Nabi itulah yang kerap aku lantunkan.

Bukannya diam, tangis Shumaila makin keras.

Sepertinya istriku kerepotan, pembicaraan kami pun berakhir. Beberapa menit kemudian sebuah pesan dari istriku masuk.

“Shumaila lagi megang HP nyari suara Ayah, kayaknya shumaila rindu”

Hatiku  luluh. Kalau kamu tau,  bukan Shumaila saja yang kangen. Ayah juga kangen neuk. Saban hari ayah memandang foto Shumaila. Berandai andai dapat memeluk dan mencium kamu .

Jakarta, 09092013

6 thoughts on “Ayah kangen neuk…

  1. ahahahahahahahaha… “Aku memilih bershalawat, karena sejak dalam kandungan, puji pujian kepada Nabi itulah yang kerap aku lantunkan.” dan……………………………… “Bukannya diam, tangis Shumaila makin keras.” pertanyaannya adalah, ketika Syumaila masih dalam kandungan dan b’Ariel bershalawat waktu itu, apa yang terjadi dengan Syumaila?????? hanya Allah dan Rasulnya yg tau… hahahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s