COT GOH

Shalat magrib baru saja usai, saya memilih duduk di salah satu tiang mesjid sambil memperhatikan mereka yang sibuk shalat dan berzikir. Malam jumat itu saya berada di mesjid Cot Goh, mesjid terbesar di gampong Teubang Phui Mesjid kecamatan Montasik Kabupaten Aceh Besar. Teubang Phui Mesjid adalah satu dari 14 gampong yang ada di mukim Bukit Baro.

Meski mesjid Cot Goh sudah lama berdiri namun baru beberapa tahun belakang dipugar.

Mesjid Cot Goh

Mesjid Cot Goh, Teubang Phui Montasik Aceh Besar

Seorang lelaki jangkung tampak bediri di samping mimbar, ia menyampaikan informasi kalau malam ini akan ada tamu istimewa dari Malaysia, Ustad Abdurrahman. Kulihat beberapa orang yang tadinya duduk bersila di tiang-tiang luar masjid sontak mengerubungi mimbar. Keadaan kembali ramai.

 

Saya mentaksir ada sekitar seratus jamaah yang akan mendengar bayan atau ceramah kali ini. Namun saya tetap memilih bertahan di tiang mesjid yang jauh dari kerumunan jamaah. Pasalnya dengan jumlah jamaah yang mencapai ratusan orang, pasti akan membuat saya kerepotan jika harus keluar masuk. Maklum, udara dingin bukan tak mungkin bisa membuat saya bertahan lama disana.

Sambil bersandar dan sesekali mencoba fokus pada penyampaian bayan, saya memperhatikan detail dari mesjid Cot Goh. Ukiran terpahat rapi di langit-langit mesjid, lantai marmer putih dengan ukuran besar, serta mimbar khatib yang tampak terlalu sederhana. Jika dilihat dari interiornya sebenarnya mesjid ini masih kalah jauh dengan beberapa mesjid di Banda Aceh. Namun entah mengapa mesjid ini begitu istimewa dan dikenal banyak orang. Hal ini pulalah yang membuat saya penasaran dan mendatanginya malam ini.

Kunjungan saya kali ini ditemani Jamil, yang sejak dari tadi menemani saya. Jamil adalah jamaah tetap di mesjid Cot Goh. Laki-laki berkulit sawo matang dan berparas timur tengah itu sudah terbiasa ikut dalam kegiatan di mesjid ini. Ia menetap di Banda Aceh yang jaraknya sekitar 30 km dari mesjid yang kami singgahi malam ini. Dari dia pula saya mendapatkan banyak informasi tentang kegiatan di mesjid ini. Jamil tak sungkan-sungkan menceritakan seluk beluk kegiatan di mesjid yang konon berdiri sejak tahun 1960an atas sumbangan masyarakat Montasik.

“Jauh sebelum mesjid ini bagus seperti sekarang, saya sudah sering datang kemari. Disini sering datang ulama besar. Bahkan Gito Rolies juga pernah datang kemari!” cerita Jamil ketika kajian bayan sedang berlangsung.
Sesekali suara istighfar dan tasbih terdengar bersahutan di depan mimbar. Dari Jamil pula saya mengerti apa maknanya. “Kalau jamaah berucap istighfar itu artinya ustadz sedang mengutip hadist atau ayat Al Qur’an berupa ancaman. Namun jika yang dikutip berupa kebesaran Allah serempak jamaah menyahut dengan tasbih “subhanallah” jelas Jamil panjang lebar.

Sejak tahun 1980an mesjid Cot Goh telah “dikuasai” oleh jamaah tabligh, sebuah pergerakan Islam yang bertujuan untuk membangkitkan jiwa spiritual dalam diri dan kehidupan masyarakat. Jadi tidak heran jika disini kita akan lebih sering menjumpai jamaah yang berpakaian jubah selutut ala Pakistan, mengingat pergerakan ini muncul pertamakali di Asia Selatan.

Dari Jamil saya juga tahu kalau kehadiran Jamaah tabligh di mesjid Cot Goh tidak lepas dari peran Raudhi, putra dari mantan camat Montasik yang disegani warga. Sehingga dalam waktu singkat gerakan tersebut langsung diterima warga dan menyebar cepat hingga ke luar Montasik.
“Mungkin karena pengaruh bapaknya juga, sehingga ketika ustad Raudhi membawa gerakan Islam ini tidak ditentang oleh warga”
Jamil juga mengaku kalau ia hanya dua kali berjumpa ustad Raudhi, “orangnya sibuk. Sering keluar kota,” lanjutnya.

Jika ditilik dari sejarah silam, kecamatan Montasik dapat dikatakan sebagai kawasan yang rentan dengan kriminalitas. Mulai dari premanisme, perjudian, dan kegiatan kriminal lainnya. Namun itu semua berubah sejak jamaah tabligh mulai masuk dan meresap dalam kehidupan keseharian masyarakat.

Meskipun sudah berjanji akan bertemu malam ini, namun saya tidak dapat menjumpai ustad Raudhi. Padahal banyak hal yang ingin saya tanyakan sehubungan dengan keberadaan jamaah tabligh di mesjid ini bagi warga Teubang Phui Mesjid khususnya.
“Ustad Raudhi lagi khuruj ke Simeulue,” sahut Jamil ketika kutanya perihal itu.

Saya sempat mengernyitkan dahi. Jamil menangkap keheranan saya. Seperti mengetahui kebingungan saya ia menjelaskan, “Khuruj itu sebuah kegiatan dakwah yang dilakukan secara berombongan. Biasanya waktu khuruj bervariasi mulai tujuh hari, 40 hari, bahkan sampai 4 bulan…”
“Meninggalkan keluarga?”
Jamil mengangguk, “Biasanya mereka pergi meninggalkan keluarga. Namun bukan berarti mereka menelantarkan keluarga, sebab sebelum berangkat mereka menyiapkan segala kebutuhan selama mereka pergi. Bahkan terkadang, bagi mereka yang telah berkeluarga, istri dan anak mereka kumpulkan di rumah syura atau pimpinan mereka, disana para istri mengisi kegiatan sehari hari dengan kegiatan keislaman”

Ketika sedang berbincang, tiba-tiba seseorang berperawakan tinggi kurus menghampiri kami. Jamil serta merta bangkit dan menyalaminya.
“Ini Sulaiman, ia sepupunya Ustad Raudhi…”
Jamil pun menceritakan maksud kedatangan saya malam ini. Ust Sulaiman pun tak sungkan-sungkan menawari saya untuk berkeliling melihat lebih dekat dengan segala kegiatan jamaah tabligh di mesjid ini.
Ditemani Jamil saya pun melangkah menuju kamar belakang, tempat ustad Sulaiman biasa bekerja. Untuk menuju kesana kami harus melewati lorong yang disisi kanannya terdapat beberapa ruang yang mempunyai fungsi berbeda-beda.
Seperti ruangan berukuran kecil yang berada dekat pintu masuk biasanya digunakan para santri untuk menghafal Al-quran, ada juga tiga ruangan lainnya yang memiliki fungsi seperti itu. Sementara ruangan lainnya biasa digunakan sebagai tempat untuk bermusyawarah.

Ada yang berbeda dari tiap ruangan, selain jika dilihat dari fungsinya, perbedaannya juga tampak dari isi dari tiap-tiap ruangan tersebut. Jika ruangan yang digunakan untuk menghafal Al-quran biasanya dipenuhi rak dan kitab-kitab. Raknya pun jauh dari kesan mewah, biasanya hanya rak lama yang sebagian merupakan sumbangan dari masyarakat. sementara jika ruangannya digunakan untuk bermusyawarah tampilannya agak lebih lenggang dan dipojok ruangan tampak beberapa bantal yang tersusun rapi.

“Kalau musyawarahnya terlalu lama, biasanya tidurnya langsung disini” Jelas Ustad Sulaiman sambil mempersilakan kami untuk duduk.

Tak berapa lama, seorang santri membawa senampan teh hangat dan sepiring biscuit cabin.
Sambil beistirahat, Ustad Sulaiman menjelaskan panjang lebar tentang tujuan jamaah tabligh bergerak di desa ini, “bagi kami membangun gampong tidak harus selalu bertumpu pada pembangunan fisik saja. Meskipun kami akui itu penting, tapi bagi kami yang jauh lebih penting adalah membangun hati dan jiwa kearah yang lebih baik. Karena hanya orang baiklah yang dapat membangun gampong ini”
Ustad Sulaiman juga menambahkan melalui masjid ini banyak mengirimkan para santri ke luar negeri untuk belajar agama dan hafal Alquran. Tidak tanggung tanggung, para santri ada yang dikirim belajar Al-quran ke Pakistan, Bangladesh, Thailand dan beberapa negara Islam lainnya.
“Jika mereka selesai disana, mereka kembali pulang dan membangun gampong ini…” Ustad Sulaiman tersenyum .

Biasanya diantara mereka ada yang menjadi imam di mesjid ini, ada pula yang kembali ke kampung halaman masing masing. Namun bagi mereka yang ingin melankutkan sekolah agama juga tidak masalah.
Sayup-sayup terdengar suara adzan isya dari menara mesjid Cot Goh. Kajian bayan telah usai, tampak beberapa jamaah mendekati bak penampungan air untuk mengambil wudhu.
Kami beranjak pergi meninggalkan ruangan dengan sebelumnya menyerup teh hangat.
“Mari kita shalat…” Ajak Ustad Sulaiman.

18 juli 2009,-
11.32`wib

One thought on “COT GOH

  1. Alhamdulillah, Saya tertarik dengan gaya penulisan anda, semoga Allah berikan taufik dan menjadikan tulisan anda ini menjadi dakwah dan menjadi asbab Hidayah bagi saya, kita dan ummah Nabi Muhammad SAW. Amin ya Rabbal ‘ Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s